Rabu, 14 Desember 2016

Menjadi Diri Sendiri

Di tengah pengerjaan profesi sebagai asesor, saya termenung lalu berpikir dan berefleksi. Saat ini, saya baru saja mengalami sebuah kegagalan. Bagi saya, kegagalan bukan lah suatu keberhasilan yang tertunda seperti yang dikatakan oleh orang yang positif dan begitu optimis. That’s good! But for me, kegagalan simply adalah sebuah pengalaman dalam proses hidup menuju kesuksesan. Eits sama aja ya. Hahaha. Engga deng. Selain pengalaman dalam proses hidup, kegagalan merupakan momen dimana kita bergerak untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang belum cocok atau momen dimana kita bisa semakin mengenali dan memahami diri kita seperti apa. Ketidakcocokan dalam konteks ini secara khusus adalah dalam konteks mencari pekerjaan atau kuliah. Proses seleksi yang dilakukan adalah proses yang wajar bagi user untuk menemukan kandidat yang pas bagi dia. Secara khusus, di sini bukan lah saja soal kompetensi atau skill, melainkan lebih ke hal personal, misalnya kepribadian dan terlebih lagi values. Memang sih, values ini merupakan dasar yang menentukan perilaku kita dalam menanggapi semua stimulus atau kejadian yang menghampiri kita di depan mata. Pembentukan values ini butuh waktu yang lama dan sulit diubah seiring bertambahnya pengalaman dan kematangan diri. Jadi, memang susah ditoleransi kalau memang sudah jauh gap-nya.

Sebenernya apa sih tujuan gue nulis ini? Engga tahu sekarang. Biar aja nanti kesimpulannya muncul di akhir setelah semua ngalir aja nih dari otak ke laptop sampe gue bisa identifikasi sebenernya apa tujuannya. Haha. Begini lah anaknya gue, lebih suka yang spontan atau fleksibel. Namun, bukan berarti gue engga suka berencana atau memiliki tujuannya ya. Gue bisa bertahan hidup aja karena gue punya tujuan. Eaa. Kenapa nulis begitu? Karena ada aja orang yang mudah membuat kesimpulan tanpa menjadi objektif, misalnya mengamati setiap perilaku, mengaitkannya dengan situasi dan konteks, dan lain sebagainya. Apalagi entah sekarang sepertinya makin banyak orang yang tampak tidak kritis dan objektif. Di situ aku kadang merasa sedih dan gemas. Tapi kalau aku memang menggemaskan. Hahaha.

Menjadi diri sendiri sebenernya adalah anugerah loh. Kenapa? Coba pikirkan sendiri. Haha. Gini, gue percaya bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling baik. Kita dibandingkan hewan, tentu jelas kan kita paling kece, punya otak untuk mikir, coy! Setuju ga? Besides, Tuhan ciptain kita dengan purpose loh dan memberikan kesempatan untuk kita bisa lahir, tumbuh, dan kembang sehingga kita punya kekuatan dan hal personal utamanya yang menjadi ciri khas masing-masing. Makin ke sini, gue makin menyadari bahwa gue orang yang menjunjung kebebasan dan keunikan, tentunya yang positif ya shay, yang engga melanggar moral dan harmful bagi orang lain di sekitar kita. Well, tetep akan ada kontrol sosial sih. Gimana pandai dan hikmat kita aja mengelola diri sendiri dan beradaptasi. Iya engga? Iya dong. Jadi, gue menghargai orang lain mau gimana gayanya selama dia paham siapa dirinya, tujuannya, dan tidak mengganggu orang lain secara sengaja.

Entah. Budaya timur, yang sifatnya kolektivis sehingga menyebabkan banyak orang lain melakukan konformitas. Tunggu dulu. Gue mikir. Kolektivis merupakan paham (mungkin) yang membuat orang lain selalu mengutamakan tujuan bersama. Iya bukan? Artinya, penting sekali orang lain mengikuti maunya kelompok. Jadi, ada kecenderungan bahwa ia akan melakukan konformitas atau menyesuaikan diri dengan lingkungan umumnya, contohnya ya gimana dari penampilan sehari-hari atau even nilai atau perilaku yang diusahakan sama dengan kelompoknya. Umm maaf-maaf nih kalo logika berpikir gue sederhana atau tidak mempertimbangkan aspek lain. Atau mungkin dasar teori gue ga sesuai dengan teori yang sebenernya. Hahahaha. Santai aja lah ya. Terus pertimbangan lainnya, media menurut gue punya andil sendiri nih yang bikin orang lain jadi semakin melihat mana yang baik tampaknya untuk diikuti. Ulala. Jadi lah orang-orang makin banyak yang engga menjadi dirinya sendiri. Entah lah. Haha duh maaf ya kalo rada asumtif atau tidak menggunakan bahan hasil riset. Tapi ini cukup menarik untuk di-explore dan diteliti. Well, tapi mager. Haha. Harap sampaikan secara lisan untuk saat ini kalau ada yang mau memberikan masukan. Hehe.

Ya jadi bisa makin menyadari ya bahwa terjadi fenomena keseragaman di sekitar kita. Bukannya engga bagus karena pasti ada sisi positifnya juga. Namun, kalau menjadi hilang esensi diri sendirinya, itu disayangkan sekali. Apalagi kalau misalnya tidak memberdayakan diri sendiri sesuai dengan potensi dan hal personal lainnya yang kita miliki. Bayangkan aja kalau berusaha menjadi orang lain atau apa dan gimana pun yang bukan core kita, capek iya pastinya, belum tentu efektif juga sih. Misalnya, kalau kita kaitkan lagi dengan cari kerja atau kuliah nih, kalau ga sesuai dengan minat, bakat, dan kompetensi serta khususnya adalah hal personal, ya susah juga. Jadi, macem perlu berbangga lah dengan menjadi diri sendiri, mengeksplor diri, dan terus menjadi manusia yang bertumbuh dan berkembang bahkan menjadi dampak positif bagi lingkungan sekitar. Sekian aja dulu ya. Kebelet pipis nih aku. Hahahaha. :* 

Selasa, 12 Juli 2016

Bahagia itu sederhana

Malam ini aku hanya bisa tersenyum. Tidak perlu mengucap banyak kata.

Aku mensyukuri untuk banyak hal yang telah terjadi.

Aku senang melihat kemajuan seorang sahabat yang merasa lebih optimis dan bersemangat menjalani hidup. Jelas dari ucapan dan tindakan yang ia lakukan. Begitu terasa.

Aku senang melihat seorang kakak baik hati yang baru saja liburan dan menikmati waktu dan suasana di sana. Kupercaya ketika ia kembali ke rutinitas, ia akan lebih berenergi.

Aku senang menyaksikan seorang sahabatku yang lain yang tinggal selangkah lagi menyelesaikan jenjang studinya. Kupercaya ke depannya ia akan semakin bersinar dan terus bersinar.

Aku senang menyaksikan seorang teman yang membagikan artikel di sosial media yang menyuarakan tentang kasih dan tidak main hakim sendiri terhadap orang lain. Aku rindu semakin banyak orang bisa mendengarkan, menoleransikan, dan menerima latar belakang dan keberadaan serta kondisi orang lain.

Aku senang melihat teman-teman lain yang baru saja menyelesaikan jenjang studi S.2-nya. Terasa sekali semangat dan perjuangan mereka selama melewati proses kuliah hingga tugas akhir. Begitu kuat terasa ketika kutemukan harapan dan rencana selanjutnya seusai S.2. Menginspirasi sekali dan menyemangati kembali untuk saya melanjutkan jenjang S.2.

Aku senang ketika aku melihat diriku pun tetap dapat berbahagia dan bersyukur ketika melihat orang lain mengalami kebahagiaan serta mewujudkan suatu nilai positif bagi dunia.

Aku pun ingin terus belajar dan beraplikasi bahwa bahagia itu sederhana. Tidak perlu sesuatu yang harus bagaimana, namun dengan kesederhanaan hingga aspek yang mungkin bagi orang lain pada umumnya sepele, tidak menurunkan nilaiku terhadap arti kebahagiaan. 

Jumat, 24 Juni 2016

Cita-citaku menjadi dosen PIO


Mengapa memilih keilmuan PIO?

Pada dasarnya, saya senang mempelajari perilaku manusia, memahami mengapa mereka berperilaku seperti ini dan bagaimana mereka dapat berperilaku seperti itu.

Kemudian, saya memiliki minat terhadap bisnis. Saya tertarik untuk memahami bagaimana sebuah proses bisnis berlangsung sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi konsumen.

Saya berharap ketika saya mempelajari PIO, saya mampu memahami dan mengintervensi bagaimana seorang karyawan dapat bekerja secara optimal sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi konsumen yang menggunakan produk dari bisnis tersebut. Di samping itu, masih banyak stakeholders yang akan mendapatkan keuntungan dari produktivitas karyawan. Oleh sebab itu, saya terdorong untuk mewujudkan bisnis yang berdampak positif bagi seluruh pihak yang berkenaan atau terlibat.

Produktivitas mereka tentunya akan menguntungkan bagi karyawan tersebut, baik secara finansial dan nonfinansial. Nonfinansial adalah kebahagiaan yang dirasakan bagi karyawan ketika dapat mengaktualisasi diri dan minat dalam pekerjaan karena bagi saya karier itu merupakan komponen penting yang menentukan kebahagiaan seseorang. Maka dari itu, saya berharap melalui ilmu PIO, saya juga dapat mewujudkan kondisi bagi karyawan mampu mengoptimalkan dirinya dan menikmati pekerjaan dan kariernya berdasarkan kesesuaian karyawan tersebut dalam pekerjaan.

Mengapa saya ingin menjadi dosen?

Pada dasarnya, saya menyukai belajar. Saya berharap dan selalu berusaha mewujudkan bahwa setiap hari saya selalu belajar, bertumbuh, dan berkembang. Aspek pembelajaran yang saya hendaki adalah terkait akademis atau keilmuan yang saya minati. Ketika saya menjadi dosen, saya akan terdorong untuk terus  belajar secara berkelanjutan serta tentu mengikuti perkembangan zaman.

Di samping itu, saya menyukai pengajaran dan pendidikan. Saya memandang diri saya cocok dalam mengajar atau mendidik dari segi nilai yang saya anut, kepribadian, minat, kompetensi, dan lain sebagainya. Bagi saya, penting sekali bahwa saya dapat membuat orang menjadi lebih belajar dan berkembang yang nantinya pun akan menguntungkan dirinya sendiri serta lingkungan.

Saya berharap bahwa saya dapat mengembangkan mahasiswa saya di masa depan. Bukan mengenai kognitif saja yang berkembang melalui pengajaran dan pendidikan yang saya berikan, melainkan optimalisasi pada diri mahasiswa tersebut serta sikap atau rasa untuk juga turut mengembangkan atau memajukan lingkungan serta bangsa dan negaranya. Saya juga rindu nantinya saya dapat menyediakan diri dan waktu saya bagi mahasiswa untuk mendengarkan mereka atau memberikan konsultasi bagi pengembangan diri mereka. Ditambah bahwa saya memandang generasi muda memiliki peran yang krusial yang perlu diperhatikan oleh karena transisi yang dihadapi dari anak-anak atau remaja menjadi seorang yang dewasa.

Saya yakin bahwa keberlanjutan suatu bangsa dan negara dipengaruhi oleh pendidikan serta sikap dan motivasi untuk berdampak bagi sekitarnya. Tentunya, keberlanjutan tersebut ditentukan oleh generasi muda selanjutnya. Maka dari itu, saya dengan menjadi dosen, saya hendak mengembangkan dan memajukan bangsa dan negara saya melalui pendidikan dan keilmuan serta dampak positif yang dapat saya berikan bagi mahasiswa atau generasi muda melalui pendidikan dan pengembangan diri mereka. 

Kesimpulannya, saya ingin menjadi dosen PIO karena saya memiliki minat terhadap bisnis, sumber daya manusia, belajar, dan dorongan untuk berdampak bagi lingkungan saya.  

Jumat, 22 April 2016

Berintegritas

Di sela pengerjaan tugas negara, saya teringat sebuah pengalaman unik yang perlu saya bagikan agar menjadi pembelajaran bersama. Saya teringat untuk menuliskan atau menceritakan sebuah pengalaman unik yang pernah saya dapatkan. Pembelajaran yang bisa kita ambil di sini adalah banyak, dimulai dari integritas, berkomunikasi secara asertif dan efektif, dan menyadari bahwa kehidupan ini memang terdapat ketidakidealan.

Waktu itu, sekitar sebulan lalu mungkin, ada seseorang kenalan saya yang bertanya apakah saya bersedia untuk menjadi narasumber bagi seorang orangtua yang memiliki anak SMA kelas 3 yang ingin berkuliah di Fakultas Psikologi UI. Lantas, saya menanggapinya dan bersedia untuk dikenalkan dan bertemu dengan orangtua tersebut. Saya merasa salut di awal karena ada orangtua yang mau melibatkan diri untuk keberhasilan anaknya sampai-sampai mau menemui saya untuk berdiskusi. Kesempatan bagi saya untuk bisa sharing dan memberikan impact positif bagi orangtua tersebut agar dapat mendukung anaknya untuk terus berhasil. Saya antusias sekali di awal.

Ketika bertemu dengan orangtua tersebut, kami berjabat tangan dan orangtua tersebut memulai percakapan. Saya mendengarkan dengan penuh atensi terhadap beliau, saya memperhatikan setiap apa yang dibicarakan agar saya dapat memahami dan memberikan respons yang relevan, berkesinambungan, dan konstruktif. Di awal, ia menceritakan mengenai anaknya yang ingin sekali berkuliah di fakultas dengan warna makara biru muda tersebut. Ia menyampaikan bahwa ia sebagai orangtua, ingin melihat anaknya berhasil dan ia ingin dirinya terlibat untuk membuat anaknya berhasil masuk di fakultas tempat saya belajar dan berkembang, serta mendapat gelar sarjana psikologi tersebut.

Saya perhatikan tiap ucapan yang ia keluarkan. Hingga dalam beberapa menit kemudian, saya menangkap, saya memahami bahwa orangtua tersebut memiliki keinginan yang terselubung dari pertemuan kami. Saya bertahan untuk tidak segera memberikan penilaian hingga saya gali lagi dan melakukan paraphrasing. Hingga akhirnya, jelas sudah. Orangtua tersebut menanyakan saya, apakah ada kenalan dosen atau orang di kampus yang dapat membantu anaknya untuk meloloskan anaknya supaya dapat berkuliah di UI. Ia mengajak saya berbisnis, ia akan memberikan uang kepada saya dan kenalan di dalam jika anaknya bisa diberikan satu kursi sehingga dapat berkuliah tanpa harus bersaing dalam ujian seleksi.

Pada awalnya, saya menyampaikan bahwa saya tidak tahu-menahu bahwa apakah dosen saya ada yang menjadi panitia dalam penerimaan mahasiswa atau tidak. Yang sebenarnya, dalam hati saya, ini tidak sesuai dengan diri saya. Saya tidak mau melakukannya. Namun, saya kemudian gali terlebih dahulu mengenai profil anaknya. Anaknya merupakan anak yang pintar di sekolahnya, selalu mendapatkan juara di kelasnya, ia pun aktif di organisasi dan memiliki prestasi di bidang nonakademis. Saya menanggapi hal tersebut dengan menyampaikan bahwa anak tersebut memiliki profil yang baik, dengan ia berprestasi, saya pikir bahwa anaknya memiliki kemampuan belajar yang baik dan motivasi kuat yang membuatnya berpeluang sukses. Ditambah, saya temukan bahwa anaknya pun mengikuti bimbingan belajar. Saya menyampaikan bahwa peluang ia untuk berhasil menjadi mahasiswa UI pun besar.

Lantas, saya bertanya-tanya mengapa orangtua ini hendak melakukan kecurangan. Ia menjawab bahwa ia ingin membahagiakan anaknya, ia tidak mau melihat anaknya gagal. Saya menganggap bahwa caranya adalah salah. Saya pribadi memang sejak awal sudah merasa emosi dengan tawaran orangtua tersebut untuk mengajak saya melakukan kecurangan. Namun, saya tetap bertahan dengan tetap mendengarkan dan akhirnya saya secara asertif menyampaikan bahwa maaf saya tidak dapat membantu dalam hal ini karena ini tidak sesuai dengan nilai pribadi saya. Dan, saya pun memotivasi orangtua tersebut untuk memiliki keyakinan terhadap anaknya bahwa ia berpeluang berhasil berdasarkan profil yang telah saya temukan mengenai anak ini. Saat itu, saya juga berpikir bahwa setiap anak SMA memiliki hak yang sama untuk dapat berkuliah di UI, tidak memandang kondisi finansial dan lain sebagainya. Saya sangat tidak mendukung adanya praktik seperti ini di mana pun, objektivitas penting dalam seleksi karena nantinya pun akan berdampak bagi orang tersebut dan lingkungan di sekitarnya.

Kesal memang rasanya, pengalaman ini adalah pengalaman yang unik. Baru kali ini saya secara langsung untuk diajak melakukan kecurangan. Jelas, perbuatan ini salah, melanggar keyakinan, melanggar prinsip keadilan, melanggar nilai-nilai saya. Saya sempat kaget mendapatkan pengalaman ini. Namun, saya menyadari bahwa hal-hal seperti ini bisa dikatakan ada dan terjadi di sekitar kita. Saya sebagai bagian dari UI tentu menganggap ini sebagai tantangan untuk kita harus tetap menjaga integritas kita dalam mengerjakan profesi dan berperilaku sehari-hari. Dengan menjaga integritas, menurut saya adalah sesuatu yang membanggakan. Terlebih lagi, kita harus selalu memberikan contoh yang benar dan positif bagi lingkungan sekitar kita ditambah lagi, banyak kecurangan telah terjadi di negara kita. Tindakan kita dengan menjaga diri dari kecurangan dapat dijadikan contoh atau inspirasi bagi orang-orang untuk melakukan hal yang benar. Dan, saya merasa yakin ini lah yang Tuhan kehendaki untuk menjadi terang di tengah dunia yang gelap. Berat memang, tapi tetap harus dicoba dan dilakukan terus-menerus. 

Sudahkah dan maukah kita menjaga integritas?

Senin, 15 Februari 2016

Ayo olahraga! Sebuah solusi untuk meringankan beban stres

Di kala stres melanda, respons yang perilaku yang muncul adalah selalu dalam dua pilihan, yaitu fight or flight. Fight adalah berusaha mengatasi masalah yang terjadi, sedangkan flight adalah meninggalkan masalah, yang tentunya masalah tersebut tidak selesai. Selain itu, dikenal juga istilah coping yang artinya adalah respons mengatasi masalah. Mirip dengan istilah fight or flight, namun term-nya memang lebih canggih ala psikologi banget. Halah, Hahaha.

Dalam tulisan ini, gue bukan mau curhat atau yang menulis lebih mendalam mengenai stres. Ya, singkat saja terkait stres yang mau gue tulis. Ya, seperti biasa, gue senang dengan berbagi pengalaman gue yang bisa menjadi manfaat bagi para pembaca. Elah kaya ada yang baca aja. Wkwkwk. Tapi gue seneng loh, someone said to me that there's a lot of good message that he can gain and learn from my writing. Hehe. Syukurlah, people bisa belajar sesuatu dari tulisan gue karena itu memang adalah salah satu tujuan gue menulis. Dan of course, because my main goal or purpose in my life is helping and developing others. Kyaaa gue senang dan puas ketika kondisi gue yang sibuk #halah. Tapi gue masih bisa mengaktualisasi diri gue dengan berbagi manfaat kepada sesama.

Well, memang selalu panjang ya kalimat pembuka gue. Hahaha. Biar aja lah ya, itu yang muncul dalam pikiran gue soalnya. Hehe. Gue jadi mau cerita nih. Sebenernya pengalaman gue udah sering terjadi. Namun, kayanya gue belum pernah share ini. Well, gue mau bercerita tentang OLAHRAGA. Lebay ya pake capslock. Wkwk.

Gue udah sering ngalamin betapa happy dan leganya dan feel free kaya Syahrini ketika habis olahraga, terutama nge-gym dan renang. Haha soalnya olahraga gue engga jauh-jauh dari itu selain ngejar bus dan jalan cepet kalo berangkat ke tempat kerjaan. Wkwk.

Lalu, apa hubungannya dengan stres? As you know, banyak banget manfaat dari olahraga. Gue jadi keinget waktu gue ikut support group kakak S.2 profesi psikologi di UI. Kami para peserta melakukan brainstorming dan kita menemukan beberapa manfaat olahraga, yaitu membuat badan lebih segar dan sehat jadi jarang terkena sakit, membuat pikiran lebih segar, bikin perasaan lebih tenang ketika stres, membuat diri menjadi lebih percaya diri, membentuk badan menjadi lebih ok, dan lain sebagainya.

Well, gue pernah ngalamin dan ngerasain semua manfaat yang di atas ketika gue berolahraga. Seru banget, bukan? Gue rasanya jadi pengen olahraga terus karena reinforcement yang gue dapet itu enak banget men! Hahaha.

Gue pernah ketika banyak pikiran, gue olahraga terus gue jadi lebih relax dan beban pikiran gue hilang. Terus gue jadi lebih mudah untuk berpikir untuk menuntaskan masalah gue. Terus gue pernah ketika endutan, gue rutin olahraga, eh gue kurusan lagi. Haha. Gue pun pernah ngalamin gue jadi jarang kena sakit. Kyaaa seru kan manfaatnya. And then, pernah juga nih gua jadi punya bentuk badan yang lebih kece. Hahahaha.

Nah, gue tuh sempat concern ya bahwa banyak loh orang stres yang lari dari masalahnya dengan cara kurang baik gitu. Misalnya, merokok, mabok, narkoba, dan ngerinya adalah melakukan bunuh diri. Serem kan. Memprihatikan loh dengan perilaku tersebut. Dan, sebenernya masih banyak lagi perilaku yang sebenernya ga baik. Apalagi ketika masalahnya tidak teratasi. Well, tiba-tiba gue keinget makalah ketika gue jadi finalis mahasiswa berprestasi di fakultas gue. Umm, kalo di makalah itu solusi mengatasi masalah adalah melalui konseling. Namun, untuk kali ini adalah olahraga dapat membantu orang yang sedang stres at least mengurangi rasa tekanan atau tensi stres yang sedang dialami.

Nah, setelah mengetahui banyak manfaat dari olahraga, yuk mulai berolahraga jika belum dan mari rutinkan olahraga bagi yang sudah mulai berolahraga. Olahraga dapat dijadikan cara untuk meringankan beban atau rasa tertekan dari stres yang dialami dari masalah yang dihadapi.

Umm, seandainya gue tahu banget mengenai proses atau dinamika dari bagaimana olahraga dapat meringankan rasa stres tersebut. Mungkin akan jadi lebih menyakinkan. Tapi ya tulisan gue bisa menyakinkan lah karena kan gue udah dapet prior knowledge dari support group dan punya pengalaman sendiri. Hahaha.

Mari berolahraga! <3 :*

Rabu, 10 Februari 2016

Big Data Tetap Keren

GUYS!!! *berasa gue lagi mau ngomong di depan beberapa orang*

Gue mau cerita nih, gue ini malem tiba-tiba kaya kesambet. Gelombang otak gue lagi stabil dan alert-nya banget. Di otak gue, bermunculan ide yang kaya stay gitu dan rasanya perlu bagi gue agar gue tuangkan dalam tulisan. At least, gue punya dokumentasinya. Kalo sewaktu-waktu gue butuh, gue bisa baca lagi.

Sambil diiringi lagu Shake It Off nya Taylor Swift, ini lagu gue puter karena gue abis makan es krim Walls Cornetto yang brand ambassador-nya adalah Si Mpok Taylor. Entah lah kalo di istilah Marketing, dia itu bisa dibilang brand ambassador atau sekadar bintang iklan. Haha. Ya sudah lah ya, fokus tulisan gue bukan pada Taylor atau es krim kok, tapi ya ini lagu at least bisa bantu gue untuk alert selama menulis karena gue udah merasa mengantuk sebenernya.

Hahaha cerita pembukaan gue aja udah panjang gini ya. Yang sabar ya bacanya. Ya begini lah karena memang tulisan gue selalu special jadinya begini. Males ga lo bacanya? Haha bodo amat. Wkwkwk.

Well, siang tadi pas istirahat makan siang, gue ga sengaja makan bareng sama karyawan baru dari departemen Marketing gitu. Kebetulan, dia itu berpengalaman kerja di Big Data. Nah, gue bahas-bahas deh mengenai Big Data. Jatuhnya gue belajar dari sharing dia sih, sekaligus gue berpikir dan menemukan insight yang bagus buat diri gue.

Awalnya, gue mengetahui Big Data itu kalau tidak salah ketika gue ambil mata kuliah Consumer Behavior ketika gue kuliah S.1. Kemudian, salah satu sahabat gue pun mendalami dan bekerja di bidang Big Data itu. Dan, gue pun pernah membaca artikel mengenai Big Data. Well, BD itu merupakan sebuah data yang bisa di-gather, dianalisis, dan ditarik insight yang bertujuan untuk membuat sebuah implementasi atau intervensi. Awalnya, Big Data dikenal pada tahun 1990-an, namun memang masih popular di luar negeri sana. Masuk ke Indonesia, kata si Mas orang kantor gue itu adalah sekitar tahun 2000-an. Dari yang gue tangkap, BD awalnya lebih popular untuk di Marketing. Namun, dia berpendapat dan gue setuju dengan pendapatnya adalah BD dapat dimanfaatkan untuk berbagai bidang dalam bisnis, salah satunya HR. Bahkan, menurut gue, ga sekadar dalam konteks bisnis atau sejenisnya, melainkan pemerintahan bahkan sebenarnya dapat memanfaatkan BD. Ya, bayangkan saja, BD dapat menampung data yang jumlahnya tak terbatas dan data tersebut dapat diolah dan diinterpretasikan hingga membuat sebuah ide atau solusi tertentu sebagai tindak lanjutnya.

Contoh BD misalnya adalah perilaku pengguna internet dalam keseharian dapat dikumpulkan dan dilihat polanya. Berangkat dari situ, baru lah kita dapat menggali insight tertentu hingga mengimplementasikan sesuatu. Umm… menurut gue, setelah mendengar penjelasan dari Mas ditambah masukan dia, memang bermain dengan data itu membutuhkan fleksibilitas, kepekaan, dan pemahaman yang baik terhadap topik tertentu. Misalnya saja, kita dapat memperoleh data mengenai perilaku pengguna Facebook, berdasarkan apa yang di-post, frekuensi posting, hingga jam berapa saja posting-an tersebut ditampilkan, data tersebut dapat saja membentuk kesimpulan, misalnya pada jam segini, mayoritas Ibu-ibu aktif bermain Facebook dan segala informasi yang ia sampaikan atau terima dapat di-generate berdasarkan pola atau informasi tertentu lainnya. Selanjutnya, pebisnis, khususnya Marketeer dapat menyiasati melakukan promosi misalnya atau branding produknya di jam-jam ketika pengguna Facebook aktif dan menyesuaikan kontennya dengan apa yang pengguna FB tersebut biasanya tampilkan. Kurang lebihnya seperti itu.

Gue cukup amaze sih karena Big Data memang keren. Bermain data juga seru. BD ternyata ok banget karena meminimalisasikan subjektivitas karena data yang ditampilkan cenderung murni. Selain itu, validitas juga lebih tinggi karena semua data dapat digunakan dan dimanfaatkan. Beda dengan penelitian yang menggunakan sampel sehingga belum tentu dapat digeneralisasikan ke keseluruhan.

Pembahasan kami memang membuat gue semakin rindu untuk melakukan penelitian. Gue mau belajar untuk semakin bersikap objektif dan terus bertanya “why” sebelum gue meyakini bahwa hipotesis gue benar. Ya, beragumentasi memang boleh apalagi dengan dasar teori atau data yang kuat, argumentasi kita pun semakin kuat. Namun, lebih penting lagi untuk tidak segera menyimpulkan atau at least juga kita menguasai topic tertentu atau variabel dalam penelitian tersebut. Huhah. Sekian dulu deh gue nulisnya mengenai ini. Gue bakal sharing lagi mengenai insight yang gue dapetin di hari ini. Hehe. See ya!

Selasa, 09 Februari 2016

Peter kangen menulis...

T'lah lama gue engga nulis di blog ini karena semua tulisan gue biasanya gue simpen di buku harian atau laptop gue. Haha. Ya, mau gue nulis blog atau engga, ya peduli amat ya. Dikira ada yang baca tulisan gue gitu. Hahaha.

Gue pengen cerita deh tentang kehidupan gue di sekitar hampir 2 bulan di tahun 2016. Haha. So far sih so good, gue tetap belajar tiap harinya, namun ya kadang kondisinya pun naik-turun. Ya wajar lah ya kehidupan di dunia ini. Wkwk. Selalu ada dinamika atau proses yang membuat gue semakin menyadari bahawa hidup ini begitu menarik. Halah.

Di awal tahun 2016, gue inget banget itu di tanggal 1 Januari 2016, gue menulis goals yang mau gue capai di tahun ini. Gue berencana kuliah tahun ini dengan beasiswa, pengen bikin penelitian pribadi terus diikutsertakan ke konferensi lagi, terus mau ikut sesuatu lomba lagi, dan punya kerjaan yang bagus. 

Proses untuk mencapainya memang engga mudah. Gue harus keluar dari zona nyaman karena mengerjakan beberapa hal sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Ya gue sih udah bikin rencana dan ngatur sebaik mungkin supaya gue tetap ber-progress, tapi kadang motivasi naik-turun. Gue pernah ngalamin, ketika gue bikin rencana dan ngeusahainnya, gue merasa kurang bersemangat. Why? Karena gue hampir miss dengang meaning or reason why gue mengerjakan ini dan ingin mencapai itu. Gue bersyukur karena gue memiliki adik kelas yang membantu gue mengingatkan mengenai meaning gue mengerjakan ini dan hendak mencapai itu. Itu memang harus selalu kita ingat sih. 

And and... gue pernah ngalamin juga ketika gue pikir bahwa ada kemungkinan bahwa gue gagal atau gue mengistilahkannya dengan ketidakpastian dalam hidup. Maksudnya adalah mau kita ngerencanain apa pun dan udah jungkir balik ngusahain, kadang bisa aja itu ga tercapai. Hiks, itu memang ga jarang bikin bete atau sedih sih, tapi itu lah ya konsekuensi yang mungkin timbul. Ya, kembali gue cerita dengan seorang yang lebih dewasa mengenai ini hingga gue menyimpulkan bahwa ya yang penting usaha dulu gitu daripada ga coba atau usaha, itu bakal gagal segagalnya. Ditambahkan dia adalah at least, udah usaha, kalo gagal pun kita bisa belajar dari pengalaman. 

Beuh, begini lah ya hidup. Selalu ada yang perlu diusahakan dan dicapai. Ya, itu lah gue yang tipenya memang goal-oriented. Goals lah yang membuat gue bergerak, bekerja, melakukan sesuatu. Hah... semoga Tuhan berkenan supaya gue bisa berhasil mencapai tujuan gue di tahun ini. Umm, sama ini sih gue mau nambahin. Gue kayanya beberapa kali cemas berlebihan. In short, gue seperti ga percaya gitu bahwa semua bisa baik-baik saja. Ya, mungkin iman gue lagi kurang mantep saat itu. Eh rupanya, Tuhan kasih jalan dan kesempatan buat gue. Gue merasa diberkati dan harusnya gue selalu percaya bahwa gue dan ya setiap manusia pun diberkati masing-masing sama Tuhan. Dan ya, gue perlu untuk mengingat usaha gue. Ternyata, Tuhan pun memberkati usaha kita loh. Hehe. Dasar ya gue memang manusia banget. Yang suka merasa kuatir sama hidup, padahal ya semua sudah disiapkan apalagi ketika kita sudah berusaha. 

Ya, gue bersyukur, ketika gue berpikir hidup perlu gue kontrol sepenuhnya, namun ternyata ada yang ga bisa dikontrol sama diri kita sendiri. Either dari Tuhan atau ya apa pun dari eksternal kita lah yang bisa mengontrol. Ya, ini membuat gue belajar untuk tetep berserah sama Tuhan, berusaha yang gue bisa lakukan, dan mendoakan semuanya. Seems relijius amat ya gue, padahal engga juga sih. Haha.

Good luck untuk kita semua di tahun 2016! Tuhan memberkati. Haha rasanya gue nulis kaya sambil berdoa. Hehehe. Dadah!