Senin, 15 Februari 2016

Ayo olahraga! Sebuah solusi untuk meringankan beban stres

Di kala stres melanda, respons yang perilaku yang muncul adalah selalu dalam dua pilihan, yaitu fight or flight. Fight adalah berusaha mengatasi masalah yang terjadi, sedangkan flight adalah meninggalkan masalah, yang tentunya masalah tersebut tidak selesai. Selain itu, dikenal juga istilah coping yang artinya adalah respons mengatasi masalah. Mirip dengan istilah fight or flight, namun term-nya memang lebih canggih ala psikologi banget. Halah, Hahaha.

Dalam tulisan ini, gue bukan mau curhat atau yang menulis lebih mendalam mengenai stres. Ya, singkat saja terkait stres yang mau gue tulis. Ya, seperti biasa, gue senang dengan berbagi pengalaman gue yang bisa menjadi manfaat bagi para pembaca. Elah kaya ada yang baca aja. Wkwkwk. Tapi gue seneng loh, someone said to me that there's a lot of good message that he can gain and learn from my writing. Hehe. Syukurlah, people bisa belajar sesuatu dari tulisan gue karena itu memang adalah salah satu tujuan gue menulis. Dan of course, because my main goal or purpose in my life is helping and developing others. Kyaaa gue senang dan puas ketika kondisi gue yang sibuk #halah. Tapi gue masih bisa mengaktualisasi diri gue dengan berbagi manfaat kepada sesama.

Well, memang selalu panjang ya kalimat pembuka gue. Hahaha. Biar aja lah ya, itu yang muncul dalam pikiran gue soalnya. Hehe. Gue jadi mau cerita nih. Sebenernya pengalaman gue udah sering terjadi. Namun, kayanya gue belum pernah share ini. Well, gue mau bercerita tentang OLAHRAGA. Lebay ya pake capslock. Wkwk.

Gue udah sering ngalamin betapa happy dan leganya dan feel free kaya Syahrini ketika habis olahraga, terutama nge-gym dan renang. Haha soalnya olahraga gue engga jauh-jauh dari itu selain ngejar bus dan jalan cepet kalo berangkat ke tempat kerjaan. Wkwk.

Lalu, apa hubungannya dengan stres? As you know, banyak banget manfaat dari olahraga. Gue jadi keinget waktu gue ikut support group kakak S.2 profesi psikologi di UI. Kami para peserta melakukan brainstorming dan kita menemukan beberapa manfaat olahraga, yaitu membuat badan lebih segar dan sehat jadi jarang terkena sakit, membuat pikiran lebih segar, bikin perasaan lebih tenang ketika stres, membuat diri menjadi lebih percaya diri, membentuk badan menjadi lebih ok, dan lain sebagainya.

Well, gue pernah ngalamin dan ngerasain semua manfaat yang di atas ketika gue berolahraga. Seru banget, bukan? Gue rasanya jadi pengen olahraga terus karena reinforcement yang gue dapet itu enak banget men! Hahaha.

Gue pernah ketika banyak pikiran, gue olahraga terus gue jadi lebih relax dan beban pikiran gue hilang. Terus gue jadi lebih mudah untuk berpikir untuk menuntaskan masalah gue. Terus gue pernah ketika endutan, gue rutin olahraga, eh gue kurusan lagi. Haha. Gue pun pernah ngalamin gue jadi jarang kena sakit. Kyaaa seru kan manfaatnya. And then, pernah juga nih gua jadi punya bentuk badan yang lebih kece. Hahahaha.

Nah, gue tuh sempat concern ya bahwa banyak loh orang stres yang lari dari masalahnya dengan cara kurang baik gitu. Misalnya, merokok, mabok, narkoba, dan ngerinya adalah melakukan bunuh diri. Serem kan. Memprihatikan loh dengan perilaku tersebut. Dan, sebenernya masih banyak lagi perilaku yang sebenernya ga baik. Apalagi ketika masalahnya tidak teratasi. Well, tiba-tiba gue keinget makalah ketika gue jadi finalis mahasiswa berprestasi di fakultas gue. Umm, kalo di makalah itu solusi mengatasi masalah adalah melalui konseling. Namun, untuk kali ini adalah olahraga dapat membantu orang yang sedang stres at least mengurangi rasa tekanan atau tensi stres yang sedang dialami.

Nah, setelah mengetahui banyak manfaat dari olahraga, yuk mulai berolahraga jika belum dan mari rutinkan olahraga bagi yang sudah mulai berolahraga. Olahraga dapat dijadikan cara untuk meringankan beban atau rasa tertekan dari stres yang dialami dari masalah yang dihadapi.

Umm, seandainya gue tahu banget mengenai proses atau dinamika dari bagaimana olahraga dapat meringankan rasa stres tersebut. Mungkin akan jadi lebih menyakinkan. Tapi ya tulisan gue bisa menyakinkan lah karena kan gue udah dapet prior knowledge dari support group dan punya pengalaman sendiri. Hahaha.

Mari berolahraga! <3 :*

Rabu, 10 Februari 2016

Big Data Tetap Keren

GUYS!!! *berasa gue lagi mau ngomong di depan beberapa orang*

Gue mau cerita nih, gue ini malem tiba-tiba kaya kesambet. Gelombang otak gue lagi stabil dan alert-nya banget. Di otak gue, bermunculan ide yang kaya stay gitu dan rasanya perlu bagi gue agar gue tuangkan dalam tulisan. At least, gue punya dokumentasinya. Kalo sewaktu-waktu gue butuh, gue bisa baca lagi.

Sambil diiringi lagu Shake It Off nya Taylor Swift, ini lagu gue puter karena gue abis makan es krim Walls Cornetto yang brand ambassador-nya adalah Si Mpok Taylor. Entah lah kalo di istilah Marketing, dia itu bisa dibilang brand ambassador atau sekadar bintang iklan. Haha. Ya sudah lah ya, fokus tulisan gue bukan pada Taylor atau es krim kok, tapi ya ini lagu at least bisa bantu gue untuk alert selama menulis karena gue udah merasa mengantuk sebenernya.

Hahaha cerita pembukaan gue aja udah panjang gini ya. Yang sabar ya bacanya. Ya begini lah karena memang tulisan gue selalu special jadinya begini. Males ga lo bacanya? Haha bodo amat. Wkwkwk.

Well, siang tadi pas istirahat makan siang, gue ga sengaja makan bareng sama karyawan baru dari departemen Marketing gitu. Kebetulan, dia itu berpengalaman kerja di Big Data. Nah, gue bahas-bahas deh mengenai Big Data. Jatuhnya gue belajar dari sharing dia sih, sekaligus gue berpikir dan menemukan insight yang bagus buat diri gue.

Awalnya, gue mengetahui Big Data itu kalau tidak salah ketika gue ambil mata kuliah Consumer Behavior ketika gue kuliah S.1. Kemudian, salah satu sahabat gue pun mendalami dan bekerja di bidang Big Data itu. Dan, gue pun pernah membaca artikel mengenai Big Data. Well, BD itu merupakan sebuah data yang bisa di-gather, dianalisis, dan ditarik insight yang bertujuan untuk membuat sebuah implementasi atau intervensi. Awalnya, Big Data dikenal pada tahun 1990-an, namun memang masih popular di luar negeri sana. Masuk ke Indonesia, kata si Mas orang kantor gue itu adalah sekitar tahun 2000-an. Dari yang gue tangkap, BD awalnya lebih popular untuk di Marketing. Namun, dia berpendapat dan gue setuju dengan pendapatnya adalah BD dapat dimanfaatkan untuk berbagai bidang dalam bisnis, salah satunya HR. Bahkan, menurut gue, ga sekadar dalam konteks bisnis atau sejenisnya, melainkan pemerintahan bahkan sebenarnya dapat memanfaatkan BD. Ya, bayangkan saja, BD dapat menampung data yang jumlahnya tak terbatas dan data tersebut dapat diolah dan diinterpretasikan hingga membuat sebuah ide atau solusi tertentu sebagai tindak lanjutnya.

Contoh BD misalnya adalah perilaku pengguna internet dalam keseharian dapat dikumpulkan dan dilihat polanya. Berangkat dari situ, baru lah kita dapat menggali insight tertentu hingga mengimplementasikan sesuatu. Umm… menurut gue, setelah mendengar penjelasan dari Mas ditambah masukan dia, memang bermain dengan data itu membutuhkan fleksibilitas, kepekaan, dan pemahaman yang baik terhadap topik tertentu. Misalnya saja, kita dapat memperoleh data mengenai perilaku pengguna Facebook, berdasarkan apa yang di-post, frekuensi posting, hingga jam berapa saja posting-an tersebut ditampilkan, data tersebut dapat saja membentuk kesimpulan, misalnya pada jam segini, mayoritas Ibu-ibu aktif bermain Facebook dan segala informasi yang ia sampaikan atau terima dapat di-generate berdasarkan pola atau informasi tertentu lainnya. Selanjutnya, pebisnis, khususnya Marketeer dapat menyiasati melakukan promosi misalnya atau branding produknya di jam-jam ketika pengguna Facebook aktif dan menyesuaikan kontennya dengan apa yang pengguna FB tersebut biasanya tampilkan. Kurang lebihnya seperti itu.

Gue cukup amaze sih karena Big Data memang keren. Bermain data juga seru. BD ternyata ok banget karena meminimalisasikan subjektivitas karena data yang ditampilkan cenderung murni. Selain itu, validitas juga lebih tinggi karena semua data dapat digunakan dan dimanfaatkan. Beda dengan penelitian yang menggunakan sampel sehingga belum tentu dapat digeneralisasikan ke keseluruhan.

Pembahasan kami memang membuat gue semakin rindu untuk melakukan penelitian. Gue mau belajar untuk semakin bersikap objektif dan terus bertanya “why” sebelum gue meyakini bahwa hipotesis gue benar. Ya, beragumentasi memang boleh apalagi dengan dasar teori atau data yang kuat, argumentasi kita pun semakin kuat. Namun, lebih penting lagi untuk tidak segera menyimpulkan atau at least juga kita menguasai topic tertentu atau variabel dalam penelitian tersebut. Huhah. Sekian dulu deh gue nulisnya mengenai ini. Gue bakal sharing lagi mengenai insight yang gue dapetin di hari ini. Hehe. See ya!

Selasa, 09 Februari 2016

Peter kangen menulis...

T'lah lama gue engga nulis di blog ini karena semua tulisan gue biasanya gue simpen di buku harian atau laptop gue. Haha. Ya, mau gue nulis blog atau engga, ya peduli amat ya. Dikira ada yang baca tulisan gue gitu. Hahaha.

Gue pengen cerita deh tentang kehidupan gue di sekitar hampir 2 bulan di tahun 2016. Haha. So far sih so good, gue tetap belajar tiap harinya, namun ya kadang kondisinya pun naik-turun. Ya wajar lah ya kehidupan di dunia ini. Wkwk. Selalu ada dinamika atau proses yang membuat gue semakin menyadari bahawa hidup ini begitu menarik. Halah.

Di awal tahun 2016, gue inget banget itu di tanggal 1 Januari 2016, gue menulis goals yang mau gue capai di tahun ini. Gue berencana kuliah tahun ini dengan beasiswa, pengen bikin penelitian pribadi terus diikutsertakan ke konferensi lagi, terus mau ikut sesuatu lomba lagi, dan punya kerjaan yang bagus. 

Proses untuk mencapainya memang engga mudah. Gue harus keluar dari zona nyaman karena mengerjakan beberapa hal sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Ya gue sih udah bikin rencana dan ngatur sebaik mungkin supaya gue tetap ber-progress, tapi kadang motivasi naik-turun. Gue pernah ngalamin, ketika gue bikin rencana dan ngeusahainnya, gue merasa kurang bersemangat. Why? Karena gue hampir miss dengang meaning or reason why gue mengerjakan ini dan ingin mencapai itu. Gue bersyukur karena gue memiliki adik kelas yang membantu gue mengingatkan mengenai meaning gue mengerjakan ini dan hendak mencapai itu. Itu memang harus selalu kita ingat sih. 

And and... gue pernah ngalamin juga ketika gue pikir bahwa ada kemungkinan bahwa gue gagal atau gue mengistilahkannya dengan ketidakpastian dalam hidup. Maksudnya adalah mau kita ngerencanain apa pun dan udah jungkir balik ngusahain, kadang bisa aja itu ga tercapai. Hiks, itu memang ga jarang bikin bete atau sedih sih, tapi itu lah ya konsekuensi yang mungkin timbul. Ya, kembali gue cerita dengan seorang yang lebih dewasa mengenai ini hingga gue menyimpulkan bahwa ya yang penting usaha dulu gitu daripada ga coba atau usaha, itu bakal gagal segagalnya. Ditambahkan dia adalah at least, udah usaha, kalo gagal pun kita bisa belajar dari pengalaman. 

Beuh, begini lah ya hidup. Selalu ada yang perlu diusahakan dan dicapai. Ya, itu lah gue yang tipenya memang goal-oriented. Goals lah yang membuat gue bergerak, bekerja, melakukan sesuatu. Hah... semoga Tuhan berkenan supaya gue bisa berhasil mencapai tujuan gue di tahun ini. Umm, sama ini sih gue mau nambahin. Gue kayanya beberapa kali cemas berlebihan. In short, gue seperti ga percaya gitu bahwa semua bisa baik-baik saja. Ya, mungkin iman gue lagi kurang mantep saat itu. Eh rupanya, Tuhan kasih jalan dan kesempatan buat gue. Gue merasa diberkati dan harusnya gue selalu percaya bahwa gue dan ya setiap manusia pun diberkati masing-masing sama Tuhan. Dan ya, gue perlu untuk mengingat usaha gue. Ternyata, Tuhan pun memberkati usaha kita loh. Hehe. Dasar ya gue memang manusia banget. Yang suka merasa kuatir sama hidup, padahal ya semua sudah disiapkan apalagi ketika kita sudah berusaha. 

Ya, gue bersyukur, ketika gue berpikir hidup perlu gue kontrol sepenuhnya, namun ternyata ada yang ga bisa dikontrol sama diri kita sendiri. Either dari Tuhan atau ya apa pun dari eksternal kita lah yang bisa mengontrol. Ya, ini membuat gue belajar untuk tetep berserah sama Tuhan, berusaha yang gue bisa lakukan, dan mendoakan semuanya. Seems relijius amat ya gue, padahal engga juga sih. Haha.

Good luck untuk kita semua di tahun 2016! Tuhan memberkati. Haha rasanya gue nulis kaya sambil berdoa. Hehehe. Dadah! 

Sabtu, 17 Januari 2015

Belajar dan Berhasil di Psikologi UI: Impian, Keyakinan, dan Usaha

Perkenalkan nama saya Peter Samuel Oloi. Saya adalah mahasiswa Fakultas Psikologi UI

angkatan 2010. Sejenak saya beristirahat dari pengerjaan skripsi, saya ingin membagikan

kisah hidup saya yang kiranya dapat menginspirasi dan memotivasi teman-teman

pembaca. Cerita saya secara umum menggambarkan dan menjelaskan perjalanan

perjuangan saya untuk berkuliah di Fakultas Psikologi UI. Banyak suka-duka yang

dirasakan, serta pembelajaran berharga bagi saya pribadi, ingin saya sampaikan kepada

kalian. Bukalah pikiran, amati dan rasakan kalimat perkalimat, dan petiklah buah manis

yang dapat dinikmati bersama.


Saya lulus dari sebuah sekolah negeri di Bekasi pada tahun 2008. Di masa SMA, saya

sangat berharap dan berusaha untuk dapat berkuliah di UI dengan jurusan Sastra Jepang.

Memang selama bersekolah, pelajaran bahasa Jepang merupakan mata pelajaran yang

saya minati dan saya unggul pada bidang tersebut. Saya pernah bermimpi bahwa saya

dapat meneruskan belajar bahasa Jepang hingga mendapatkan beasiswa untuk belajar

di negara tersebut. Kemudian pada kelas XII, saya pun mengikuti bimbingan belajar

untuk mendukung saya dalam mencapai mimpi-mimpi saya. Sepulang dari sekolah, saya

berangkat ke tempat bimbingan belajar dan belajar di sana hingga malam.


Ketika semakin dekat dengan bulan-bulan ujian masuk perguruan tinggi negeri, saya

pun semakin giat dalam belajar, baik ketika berada di tempat bimbingan belajar maupun

belajar dengan teman serta belajar secara pribadi. Keinginan saya begitu kuat untuk lulus

dan menjadi mahasiswa Sastra Jepang UI. Meskipun orangtua saya kurang mendukung

pilihan saya, kekuatan saya tetap bertahan dalam belajar dan ingin mencapai mimpi

saya tersebut. Hingga akhirnya, saya pun tidak lulus ujian masuk Sastra Jepang UI,

melainkan Sastra Jepang Unpad pada ujian SNMPTN 2008, yakni ujian masuk terakhir

pada tahun tersebut. Akan tetapi, saya juga berhasil lulus ujian masuk UI, saya pun

berkuliah sebagai mahasiswa D.3 Vokasi UI dengan jurusan akuntansi sektor publik

pada tahun 2008 hingga 2010. Tidak ada bayangan berkuliah di jurusan akuntansi karena

saya belum memiliki dasar pada ilmu tersebut. Masuk UI dan dukungan orangtua adalah

pertimbangan utama saya yang mendorong saya berkuliah pada jurusan akuntansi.


Dua tahun menjalani sebuah status dan peran sebagai mahasiswa akuntansi di UI

merupakan pengalaman yang tidak akan saya lupakan dalam hidup saya, berikut juga

dengan proses yang saya alami hingga saya menjadi seorang mahasiswa Psikologi UI

hingga sekarang. Masih teringat dalam kepala saya, awalnya sangat senang karena

menjadi mahasiswa UI. Namun, tidak bertahan lama. Ketika sejak awal perkuliahan,

saya sudah merasa sulit dalam belajar di jurusan akuntansi, terutama pada mata kuliah

yang berkaitan dengan akuntansi. Saya seperti sudah tidak memahami akuntansi itu

sendiri pada semester pertama. Ini mengakibatkan performa dan hasil belajar saya pun

kurang baik pada beberapa semester selanjutnya, saya tidak lulus pada beberapa mata

kuliah akuntansi, IPK saya pun pernah mencapai dua koma yang di bawah standar.

Memprihatikan sekali hidup dan kondisi akademis saya saat itu. Hingga saya menemukan

satu penyebab yang paling dekat pada diri terhadap studi saya. Penyebabnya adalah saya

kurang berminat belajar akuntansi dan saya tidak memiliki tujuan yang jelas berkuliah di

akuntansi serta karier di masa depan pada bidang ini. Saya tidak terdorong untuk belajar

akuntansi bahkan ini juga berdampak pada minat saya terhadap aktivitas nonakademis

hingga bersosialisasi di sana. Saya menganggap bahwa saya adalah mahasiswa yang

kurang aktif jika dibandingkan dengan mahasiswa lainnya selama di sana.


Perasaan saya begitu negatif saat berkuliah di akuntansi. Saya pernah merasa stres hingga

depresi. Saya merasa tertekan dan pernah bingung dengan kelanjutan hidup saya. Untuk

mengurangi perasaan tidak nyaman, saya bergaul dengan seorang teman, yang seperti

sahabat saya di waktu itu. Dia pun mengalami hal yang sama seperti saya, juga dengan

perasaan negatif yang saya rasakan. Saya juga bersyukur bahwa saya dikelilingi teman-

teman yang baik, yang peduli dan perhatian terhadap saya, baik teman di jurusan maupun

teman persekutuan kampus di Fakultas Ekonomi UI.


Ketidaknyamanan yang saya rasakan mendorong saya untuk merencanakan mengikuti

ujian masuk perguruan tinggi di tahun 2009. Saat itu, saya masih mencari jurusan apa

yang akan saya pilih. Pernah berpikir ingin memilih sastra Jepang kembali, namun telah

berubah karena saya sebetulnya belum memahami lebih lanjut mengenai pilihan saya,

seperti apa saja yang akan dipelajari dan bagaimana peluang di masa depan setelah

berkuliah di sana. Di samping itu, muncul ketertarikan terhadap jurusan manajemen

karena saya pernah belajar bisnis serta pengantar manajemen. Bagi saya, jurusan

manajemen menarik untuk dipelajari dan peluang untuk menjadi lebih sukses lebih

menjanjikan dalam pikiran saya saat itu. Pilihan terhadap manajemen pun didukung

karena saran dari sebuah tes potensi akademik yang diikuti saat SMA. Pilihan kedua saya

saat itu adalah ilmu administrasi fiskal karena jurusan ini adalah saran jurusan kedua pada

tes tersebut. Saya memilih UI karena lagi-lagi pandangan saya terhadap UI memang luar

biasa baik saat itu juga.


Mendukung penggenapan mimpi saya di tahun tersebut, saya mengikuti bimbingan

belajar di sekitar kampus saya. Saya rajin sekali belajar di tempat bimbingan belajar ini.

Entah saking berantusias dan bersemangat ingin lulus ujian masuk pada tahun tersebut,

saya bahkan merelakan tidak masuk kuliah untuk hanya belajar di bimbingan belajar

tersebut. Makin tertinggal lah saya dalam pembelajaran di jurusan akuntansi. Saya

menyadari pilihan tersebut dan saya memilih berjuang belajar untuk persiapan ujian

masuk ketimbang memprioritaskan kuliah saat itu. Namun, kenyataan berkata lain, saya

gagal kembali di setiap ujian masuk perguruan tinggi di tahun 2009. Lantas, saya masih

berstatus sebagai mahasiswa akuntansi di tahun keduanya.


Pernah saya merasa stres kembali ketika saya belum berhasil pada ujian masuk tahun

2009. Namun, tidak terlalu lama saya mengalami perasaan negatif tersebut, saya

tergolong cepat bangkit saat itu. Saya juga menyadari bahwa pilihan jurusan saya pada

tahun itu sebenarnya masih mempelajari akuntansi, yang saya sendiri masih belum siap

atau berminat jika harus belajar mata kuliah itu kembali. Jadi, saya merasa beruntung,

meskipun tidak masuk jurusan tersebut. Kemudian, saya masih ingat bahwa teman-teman

saya, baik di jurusan maupun persekutuan, selalu mendukung saya. Secara khusus, saya

mengingat seorang PKK (pemimpin kelompok kecil/ pembina rohani) saya berusaha

menguatkan dan mendorong saya agar tetap kuat dan selalu mengingatkan saya untuk

tetap belajar dengan sebaik mungkin di akuntansi. Saya pun menerima kegagalan tersebut

serta mulai berniat memperbaiki kuliah saya di akuntansi. Meskipun tetap kurang

berminat dengan akuntansi, saya mulai berusaha belajar dengan baik, seperti mengikuti

kegiatan belajar di kelas atau belajar dengan teman-teman sejurusan, bahkan sempat

mengikuti kursus di luar kampus. Saya bersyukur bahwa saya memiliki teman-teman

yang lain yang mendukung saya dalam belajar. Saya pun menghargai perilaku mereka.


Teringat bahwa di semester tiga, saya berkuliah pelajaran agama Kristen. Dalam satu

topik bahasan, saya menemukan bahwa saya tertarik dengan topik tersebut. Saya

memandang bahwa topik tersebut masih berkaitan dengan psikologi. Ketertarikan itu

begitu kuat hingga saya mulai menggali informasi mengenai psikologi. Saya mencari

tahu apa itu psikologi, apa saja yang dipelajari dalam psikologi, peluang karier apa dalam

psikologi, dan seterusnya. Tidak kebetulan juga bahwa saya masih berkesempatan untuk

mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri di 2010, yaitu tahun terakhir bagi lulusan

SMA tahun 2008. Saya semakin memantapkan pilihan saya terhadap Psikologi UI setelah

saya berusaha mendapatkan informasi mengenai belajar psikologi di UI.


Saya begitu bersemangat saat itu terhadap pilihan saya karena beberapa hal yang terjadi.

Pertama, masukan dari teman-teman saya yang melihat diri saya memiliki kecocokan

dengan ilmu psikologi dari sisi karakter atau sifat saya yang senang mendengarkan

orang lain bercerita dan memiliki keingingan untuk membantu mereka. Kedua, menurut

saya, ini yang paling berdampak bagi diri pribadi, saya menemukan panggilan hidup

saya. Hasrat yang kuat untuk menolong orang lain dan menjadi dampak positif bagi

mereka adalah panggilan hidup saya terhadap pemilihan jurusan psikologi. Lingkungan

pun memiliki andil dalam pemilihan ini di samping adanya dorongan dari dalam diri

saya, misalnya dalam persekutuan, masukan yang disampaikan menguatkan saya untuk

menjadi pribadi yang menolong orang lain. Ketiga, saya yakin bahwa pilihan psikologi

adalah yang terbaik bagi saya juga dan masa depan saya.


Saya memprioritaskan dua hal saat itu, yaitu perkuliahan saya di akuntansi dan persiapan

saya menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Saya semakin berusaha mengikuti

perkuliahan saya dengan baik serta mempersiapkan ujian masuk dengan lebih bijaksana.

Arti bijaksana di sini adalah saya tidak mengorbankan kuliah saya seperti tahun

sebelumnya. Namun, saya lebih mengatur waktu saya untuk memiliki waktu belajar

secara pribadi dalam masa persiapannya. Bahkan, saya tidak mengikuti bimbingan

belajar saat itu, saya memilih belajar mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang

saya miliki selama mengikuti bimbingan belajar. Selain itu, sikap saya pun saya ubah,

yaitu saya tidak terlalu berambisi untuk lulus ujian masuk dan saya berserah terhadap

kenyataan apa pun yang akan saya peroleh. Saya akan mengerjakan ketertinggalan saya

di akuntansi sebaik mungkin jika saya nyatanya akan tetap berkuliah di jurusan tersebut.

Yang unik dari pengalaman saya ini, saya juga lebih memperhatikan motivasi dalam

memilih psikologi, yakni ingin menolong orang lain. Saya memiliki keyakinan bahwa

jika memiliki niat atau motivasi yang baik dan jika Tuhan menghendakinya, saya akan

lulus ujian masuk di tahun 2010 dan menjadi mahasiswa Psikologi UI.


Selain keyakinan tersebut, saya juga berdoa dan beriman, yaitu saya akan menjadi

mahasiswa Psikologi UI maka sebelumnya saya perlu memperbaiki perkuliahan saya

dan menjadi teman yang baik bagi teman saya. Saya lakukan itu. Performa belajar dan

prestasi akademis saya di akuntansi menjadi lebih baik, serta hubungan saya semakin

akrab dengan teman-teman saya di akuntansi. Hasil ujian masuk pun diumumkan, saya

dinyatakan lulus ujian SIMAK UI dengan jurusan psikologi. Saya begitu bersyukur saat

itu dan rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Selain itu, saya merasa puas

karena proses yang saya lalui membuahkan hasil. Kemudian, saya segera menghubungi

orang-orang terdekat saya yang turut mendukung saya untuk kuliah di psikologi lalu

mengabarkan orangtua saya. Meskipun orangtua sempat kaget karena saya tidak

memberitahukan bahwa saya mengikuti ujian masuk kembali pada tahun 2010, bahkan

sempat terjadi ketegangan, namun ketika saya menjelaskannya, akhirnya orangtua

menerima hingga mendukung keputusan saya untuk berkuliah di Psikologi UI.


Pengalaman ini merupakan pengalaman yang paling berkesan dalam hidup saya.

Berstatus sebagai mahasiswa Psikologi UI merupakan pencapaian dari hasil perjalanan

panjang menemukan impian saya yang didukung keyakinan dan usaha. Tak berhenti

sampai di situ saja, minat dan motivasi yang kuat untuk berdampak positif bagi orang

lain selalu mengarahkan dan mempertahankan perilaku saya, baik dalam konteks

kuliah, kegiatan ekstrakurikuler, dan pergaulan saya hingga saat ini. Salah satu bentuk

konkretnya, saya berhasil meraih gelar pemenang dalam Pemilihan Mahasiswa

Berprestasi Fakultas Psikologi UI. Prestasi ini pun saya jadikan sebagai amanah dan

motivasi bagi saya agar selalu berdampak positif bagi orang lain.


Beberapa poin ingin saya sampaikan kepada teman-teman pembaca tulisan saya ini.

Saya begitu berharap saya dapat memberikan masukan yang bermanfaat dari poin-

poin tersebut. Poin ini merupakan hasil pembelajaran dari perenungan saya terhadap

pengalaman ini. Di samping itu, saya pun akan merasa senang jikalau teman-teman juga

mendapatkan pembelajaran lain yang berguna bagi diri teman masing-masing.


Pertama, penting bagi saya untuk menyampaikan hal ini, yaitu mengenai pilihan jurusan.

Saya menyadari bahwa minat dan tujuan merupakan dasar untuk menentukan pilihan

jurusan. Mengapa? Dengan adanya minat, kita akan terdorong untuk mengerjakan

sesuatu. Misalnya, kamu berminat pada bidang sosial. Minatmu ini akan mengarahkan

kamu untuk mempelajari lebih dalam mengenai bidang sosial. Tujuan, atau dapat kita

sebut juga sebagai mimpi adalah harapan atau target yang kita sasar untuk menjadi

kenyataan. Minat dan tujuan ini akan memampukan teman-teman untuk belajar

dalam mencapai apa yang kalian dambakan. Apa pun yang menjadi hambatan atau

tantangan yang dihadapi, ada kecenderungan bagi kita untuk selalu tetap berusaha untuk

mewujudkan mimpi itu karena adanya minat yang kuat dan tujuan yang ingin dicapai.

Selain itu, beberapa aspek lain, seperti bakat dan kecerdasan umum, kepribadian, serta

kemampuan atau keterampilan, dapat dijadikan pertimbangan dalam memilih jurusan.

Kesesuaian antara aspek-aspek dan jurusan akan membantu kita mendapatkan keyakinan

terhadap pilihan jurusan. Kita dapat mencari tahu siapa, apa, dan bagaimana diri kita,

baik secara mandiri maupun adanya dukungan fasilitas lain.


Kedua, temukan dan miliki orang lain yang mendukung teman-teman. Berdasarkan

pengalaman saya, saya memiliki seorang sahabat, teman kuliah, dan teman sepersekutuan

yang mengetahui dan cukup memahami proses yang saya lakukan. Kepedulian dan

dukungan mereka dalam bentuk, seperti doa, ucapan semangat, ungkapan menyakinkan,

serta saran atau masukan lainnya, telah bermanfaat bagi saya pribadi dalam menjalani

prosesnya hingga saya dapat berhasil dalam ujian masuk. Maka dari itu, cukup penting

bagi teman-teman untuk memiliki orang lain di sekitar diri kalian. Ceritakan jikalau

kalian sedang merasa lelah atau tidak bersemangat, mereka akan kembali menguatkan

dan menyemangatimu untuk selalu berusaha dalam belajar. Sampaikan jikalau kalian

membutuhkan dukungan doa atau saran, tak jarang ini akan menyakinkan kalian bahwa

kalian akan lebih berhasil. Pada dasarnya, kita adalah mahluk sosial sehingga kita

tak dapat menepis bahwa kita membutuhkan kehadiran orang lain dalam proses kita

mencapai kesuksesan, siapa pun mereka.


Ketiga, teruslah belajar dan tetaplah berdoa. Mungkin ini sangat klise, namun ini

benar dan tentu penting. Dalam mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, kita akan

mengerjakan beragam soal dari mata pelajaran yang berbeda. Kebutuhan kita untuk

belajar pun semakin besar karena memang soal yang diujikan tak dapat dikatakan

mudah, apalagi ditambah peserta lainnya yang juga memilih jurusan yang sama dengan

teman-teman. Mantapkan niat kalian untuk terus belajar, ketahui dan pahami setiap

topik dari materi pada mata pelajaran yang diujikan. Mengapa harus paham? Sedikit

informasi dari saya, soal yang diujikan bukan lah soal hafalan biasa, namun menguji

pemahaman teman-teman hingga kemampuan menganalisis soal yang disediakan. Oleh

sebab itu, bagaimanapun caranya, kalian harus selalu belajar. Jika ditemui masalah dalam

prosesnya, segera tuntaskan lalu kembalilah belajar dan nikmati setiap pembelajaran

tersebut. Mengapa? Belajar itu sangat menarik ketika teman-teman sungguh-sungguh

menyelami pembelajaran teman-teman dengan penuh minat. Dan, selalu berdoa

kepada Tuhan. Bagi kebanyakan orang, doa dijadikan sarana bagi manusia untuk

meminta sesuatu atau berkomunikasi kepada Sang Pencipta. Namun, melalui doa, kita

menyerahkan diri kita sepenuhnya dan menyatakan kepercayaan bahwa hasil yang terbaik

akan diperoleh.


Akhir dari penulisan ini, saya kembali mengucapkan terima kasih kepada setiap orang

yang ada selama perjuangan saya. Sahabat saya, Stevani Anggina, yang selalu menemani

hidup saya dalam suka dan duka bertahun-tahun di Kampus UI. Telah banyak waktu telah

kami lewati bersama, sebuah pengalaman persahabatan yang luar biasa bagi saya hingga

saya pun merasa tak dapat berkata-kata lagi. Yang saya harapkan adalah kami berdua

harus selalu bertumbuh dan berkembang hingga kami dapat menikmati hidup bahagia

masing-masing, serta selalu bersama sampai kapan pun. Bang Frans, pemimpin kelompok

saya, abang sekaligus teman saya, yang selalu senantiasa mendukung saya dalam belajar,

baik pada kuliah saya maupun pada persiapan ujian masuk. Saya selalu ingat, ia pernah

mengatakan bahwa saya harus selalu memberikan usaha yang terbaik dalam hal apa pun.

Ia pun tak hentinya juga mendoakan saya. Kemudian teringat seorang pembimbing rohani

lainnya, Pak Kim, seorang pria berwarganegaraan Korea Selatan, juga setia mendoakan

saya dan terus mendukung pilihan jurusan saya dalam tujuan memberikan dampak positif

kepada orang lain. Beliau menyakinkan saya bahwa saya akan menjadi seorang yang

sukses dalam bidang dan cita-cita saya. Saya percaya bahwa Pak Kim dan keluarga juga

selalu mendoakan saya.


Teman-teman perkuliahan di Vokasi Akuntansi UI, saya berterima kasih untuk dukungan

mereka selama dua tahun saya berkuliah bersama. Mereka tahu jelas bagaimana kondisi

saya saat itu. Selain itu, mereka pun mengerti apa yang saya inginkan saat itu. Mereka

juga berusaha membantu saya dalam belajar agar dapat bertahan kuliah selama di

sini. Sebut saja, seperti Marissa, Uno, Abi, Gorbi, Nadya, dan lain-lain. Terima kasih

untuk tawa serta canda dan kesediaan kalian mendengarkan saya bercerita hingga

mengajarkan saya akuntansi, terutama kepada Uno. Kemudian Ibu Ira, beliau adalah

pembimbing akademis saya selama di akuntansi. Beliau mendukung keputusan saya dan

mengharapkan yang terbaik bagi saya. Terima kasih untuk dukungan Ibu Ira. Setelahnya,

Pak Bernard, yaitu dosen agama Kristen saya saat itu, entah apakah ini rencana Tuhan

atau bukan bahwa saya diajarkan beliau. Melalui materi yang disampaikannya lah, saya

mulai berminat dengan ilmu psikologi. Tak tahu apa yang terjadi, jikalau saya tidak

mempelajari mata kuliah ini serta tak diajarkan oleh beliau.


Ada teman-teman persekutuan di Persekutuan Oikumene Fakultas Ekonomi UI, terima

kasih teman-teman untuk dukungan doa dan semangat yang kalian berikan. Kak Berlian

sebagai pemimpin pendalaman Alkitab di masa awal perkuliahan, Kak Monggi, Laura,

dan Pascal sebagai teman satu pelayanan untuk Persekutuan Jumat, teman kelompok kecil

saya juga, Zano, Boydo, Wely, dan Jo, dan teman-teman persekutuan saya lainnya yang

tak dapat saya sebutkan satu persatu. Melalui persekutuan ini lah, saya bertumbuh secara

rohani. Saya mengenal kehendak Tuhan dalam hidup saya, saya menemukan apa yang

menjadi panggilan hidup saya. Saya pun merasa bersyukur dapat bertemu mereka. Terima

kasih atas kehadiran kalian dalam satu perjalan penting dalam hidup saya.


Keluarga saya. Meskipun selama dua tahun itu, saya jarang berkumpul dengan keluarga

karena saya tinggal di Depok, sementara dulu rumah kami di Bekasi, saya bersyukur

bahwa saya dapat hidup dalam keluarga ini. Saya berterima kasih atas penghidupan,

pemeliharaan, dan pendidikan yang memapukan saya dapat hidup hingga sekarang

ini. Papa saya yang selalu bekerja keras demi keluarga menyadari saya bahwa betapa

cinta dan sayangnya beliau terhadap keluarganya. Mama saya yang berperan lebih

banyak dalam tumbuh dan kembang saya pun menyadari betapa besar dan setianya kasih

beliau memperhatikan anak-anaknya. Kedua kakak dan adik kandung saya yang selalu

menemani saya dalam proses kehidupan saya. Mereka pun turut mendukung saya dalam

pilihan jurusan saya. Terima kasih untuk keluarga saya.


Di samping itu, guru-guru saya, terutama di bimbingan belajar. Terima kasih atas

bimbingan belajarnya yang telah diberikan, Proses Inten dan Nurul Fikri. Saya menyadari

bahwa saya dapat mengerjakan setiap soal yang diujikan karena adanya pemahaman yang

baik. Pemahaman tersebut tak terlepas dari dukungan dari guru, pengajaran mereka dan

pembagian informasi dari mereka. Secara khusus kepada bimbingan belajar Nurul Fikri,

saya memandang kualitas pengajaran mereka unggul, serta modul hingga latihan soal

yang disiapkan dan disediakan pun berkualitas. Saya menghargai siapa pun mereka yang

telah mengajar dan mendidik saya.


Yang terutama dan yang terpenting, saya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan

Yesus, Tuhan saya yang selalu memimpin, memberkati, dan menyertai hidup saya.

Saya percaya bahwa setiap pengalaman yang saya lalui hingga sekarang tidak terlepas

adanya campur tangan Yang Mahakuasa. Saya berkuliah di akuntansi, saya pernah gagal

mengikuti ujian masuk, saya menemukan minat dan tujuan hidup saya, dan saya dapat

lulus ujian masuk ke Psikologi UI hingga belajar dan berhasil di fakultas ini merupakan

karya kasih dan karunia-Nya dalam hidup saya. Terima kasih, Tuhan! Kiranya hidup saya

dapat selalu dan terus bermanfaat bagi orang lain maka saya tidak akan pernah berhenti

untuk belajar agar saya dapat terus berbagi manfaat kepada orang lain. Amin!


Semoga teman-teman yang membaca benar mendapatkan masukan yang positif, baik

inspirasi maupun motivasi. Seperti yang saya harapkan, semoga kalian pun dapat

memperoleh pembelajaran lain yang secara tertulis tidak saya sampaikan. Biarlah

pembelajaran yang didapat mampu berdampak bagi hidup kalian, khususnya dalam hal

pilihan jurusan. Ingatlah bahwa hidup kita hanya sekali maka pergunakan hidupmu sebaik

mungkin yang kalian dapat lakukan. Pesan saya lainnya adalah bagikan apa yang telah

kamu dapatkan dari tulisan saya ini agar orang lain dapat beroleh manfaatnya dari kalian,

serta percayalah ketika kalian mengajarkan atau membagikan hal yang kalian miliki,

kalian akan semakin ahli dan kuat terkait apa pun yang kalian sampaikan kepada orang

lain. Mari bersama berbagi untuk kehidupan yang lebih baik. Selamat belajar dan jadilah

dari Universitas Indonesia! Mari bergabung di Kampus UI untuk bersama berjuang

mengembangkan dan memajukan bangsa dan negara kita tercinta, Indonesia.

Senin, 12 Januari 2015

Berjalan Teguh Mencapai Tujuan



Dalam perjalananku hari ini menuju kampus, aku sengaja mengakses renungan harian sebagai saat teduhku dengan menggunakan handphone. Beberapa renungan telah kubaca, namun salah satu menarik perhatianku. Renungan ini berjudul “Tetaplah Berlari”. Sebagai seseorang yangpengejar prestasi, aku tergerak membacanya. Mungkin saja Tuhan akan berbicara atau memberikanku masukan dalam prosesku mencapai tujuanku di tahun ini. Rupanya, renungan ini berupa puisi yang dituliskan seseorang yang pernah mengalami kegagalan. Puisi tersebut mengungkapkan kebiasaan beberapa orang yang suka melihat orang lain dalam mengejar sesuatu. Seringkali kita menoleh ke kanan atau ke kiri, melihat pencapaian orang lain. Ini pun membuat kita merasa tidak nyaman. Puisi ini melanjutkan bahwa padahal setiap manusia telah diberikan berkatnya sendiri-sendiri. Ya, Tuhan memiliki rencana bagi setiap kita manusia. Daripada memusingkan orang lain, sebaiknya kita fokus pada bagian kita. Bagian yang harus kita kejar, kita capai. Bagian yang telah menjadi panggilan kita. Fokus pada tujuan dan tindakan yang kita lakukan untuk mencapainya adalah yang paling tepat. Bahkan dari pengalaman ini nantinya, orang pun akan semakin terinspirasi. Demikian ulasan dan pemaknaan yang bisa kuberikan dari artikel renugan tersebut. Aku jadi ingin bersajak bagi kita semua yang sedang berjuang untuk mencapai sesuatu. Kiranya menjadi berkat.


Tak perlu, tak perlu lagi aku melihat orang-orang sekelilingku,
Untuk mengamati apa yang sudah mereka capai dan sudah sampai manakah mereka.
Karena tak ada gunanya juga, tidak berdampak bagiku untuk mencapai apa yang menjadi cita-citaku.
Aku sadar dan harus selalu mengingat bahwa Tuhan telah mengaruniaiku.
Ia telah memanggilku dalam rencana ini.
Ia pun yang akan menuntunku sampai akhir.
Segala sesuatu tiada kebetulan dan segala sesuatu memiliki makna dan tujuan yang baik dari-Nya.
Mungkin memang harus begini,
Ia telah merencanakan segala sesuatunya.
Harapanku adalah kiranya pengalaman ini dapat menjadi berkat.
Mungkin Tuhan sedang atau akan memakaiku karena ini.
Ya mungkin saja.
Yang bisa kulakukan kini adalah belajar fokus.
Berjuang sebaik mungkin dan berjalan bersama-Nya.
Hingga pada akhirnya nanti,
Ia akan menghadiahiku sesuatu yang bernilai dan mahal tak terhitung harganya.
Rencana-Nya adalah yang terbaik, bukan rencana kegagalan atau kecelakaan.
Terpujilah nama Tuhan sampai selamanya.
Amin.

Sabtu, 13 September 2014

Kerja Keras atau Kerja Cerdas?

Ayo mau pilih yang mana? Keras atau cerdas? Keduanya bagus, tapi yakin paling sesuai sama diri lo? 

Kali ini, gue mau berbagi cerita. Gue decribe diri gue as pekerja keras, namun tetiba gue disonan karena kayanya kerja keras itu cederung out of date alias kuno dan kurang seru kalo gue ga coba kerja lebih cerdas. Apa dan bagaimana kerja cerdas? Ya gue sih juga belum tahu nih apa dan harus gimana karena gue pun sedang mencari cara supaya bisa kerja secara cerdas. Apa yang harus gue lakukan? Apa yang kita bisa lakukan? Banyak, baca buku, ngobrol sama orang, pikirin arti cerdas bagi kita, dan coba lakukan kerja cerdas. 

Sebenernya gue mau cerita atau nulis apa sih? Hahaha. Seiring waktu berjalan, gue akan menemukan gimana cara kerja cerdas. Yang kepikiran sih sejauh ini, gue terinspirasi dari definisi perilaku inovatif itu sendiri sih, well kita lihat dulu masalahnya, kita coba pikirin tuh solusinya hingga ngeluarin ide-ide solutif terus minta feedback dan implementasiin tuh. Ya, bolehlah dievaluasi supaya lihat lagi apakah ide itu udah tepat apa belum. Jadi, maksudnya, supaya kita tahu kerja cerdas gimana, kita perlu mikir, ngeluarin ide, terus ngelakuin deh. 

 The End. Kalo gue udah nemuin kerja cerdas versi gue, pengen gue share ah.

Sayangi Dirimu: Bukan G*rnier

Pernahkah kamu merasa? “Duh, saya sepertinya belum baik mengerjakan tugas ini.”, “Ya ampun, gue kok bego amat sih.”, “Wah, kayaknya apa yang gue kerjakan tak bernilai.”, atau “Emang nih gue yang engga mampu.” 

Gue ingin menulis sesuatu dan menyampaikan pendapat gue mengenai perkataan yang mungkin tak jarang juga kita pernah ucapkan. Ini memang menarik kalau gue menulis ini dengan dibuat sedikit ilmiah agar lebih dapat dipahami dengan baik. Akan tetapi, gue memilih untuk menulis dengan santai aja, ga terlalu mikir banyak atau dalem, tapi pengennya bisa mengena dan memberikan kebaikan pada siapa pun yang membaca. 

Well, gue coba fokus ya mengenai ungkapan-ungkapan yang orang bisa sampaikan itu. Gue sendiri suka bertanya-tanya, mengapa sih orang bisa segitunya ngomong kaya gitu sama dirinya sendiri? Apa dia memiliki standar yang terlalu tinggi? Apa ia terlalu berlebihan memikirkan atau merasakan sesuatu? Atau memang ada sifat orang yang menyebabkan dia seperti itu? Ya, akan banyak kemungkinan penyebabnya sih, apalagi gue sadar bahwa perilaku manusia itu ditentukan oleh buanyaknya macem hal. Hehe. 

Begini nih ya, gue suka gemes sendiri. Kenapa gitu orang ga coba untuk bersyukur? Coba untuk berterima kasih pada diri sendiri, melihat segi kekuatan atau positif yang dia miliki, atau kalaupun kurang, kita bisa belajar dari pengalaman tersebut. Ya, memang orang berbeda dan gue sadar bahwa ga boleh kadang segampang ini bilang begitu. Gue pun kalo berperan jadi “konselor”, gue pun harus memahami dulu. But ya now, gue pengen meng-encourage people, pengen memotivasi people bahwa setiap orang itu punya kekuatan atau kelebihan masing-masing, di samping kelemahan atau ketidaksempurnaan yang manusia miliki. 

Ya memang kadang ga mudah ya untuk bisa jalanin sesuatu atau mencapai sesuatu, termasuk untuk berubah. Mengubah kebiasaan diri yang membuat kita ga nyaman menjadi kebiasaan baru yang sebenernya akan memberikan kebaikan yang luar biasa. Semua butuh proses memang, waktu bisa aja ga sebentar, tapi harus yakin bahwa perubahan pun akan bisa terjadi tanpa memandang apa pun. Maksud kalimat gue ini adalah ayo cobalah kita lebih sayang sama diri kita sendiri. Mulai dari kita bisa melihat hal positif pada diri kita, mensyukuri apa yang terjadi dan tak lupa mengapresiasi diri sendiri, melihat sisi pembelajaran dari sebuah kesulitan atau kegagalan, hingga mengontrol diri kita agar tidak menurunkan harga diri, ya setidaknya kita tetap bisa stay strong and keep moving gitu. 

Nah, jadi kesimpulannya, kalo mau hidup kita itu baik, at least merasa nyaman sedikit di tengah kesulitan yang terjadi, kita harus tetap kuat dan yakin bahwa kita telah melakukan yang terbaik, bagimanapun itu proses dan apapun itu hasilnya. Bagus juga kalo kita bisa melihat sisi positif atau peluang yang mungkin ada yang bisa membantu kita. Karena kalau bukan kita sendiri yang meg-treat diri kita sendiri seperti ini, ya kita akan terus bilang hal-hal yang ga baik kepada diri kita sendiri.