Tampilkan postingan dengan label Life Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life Sharing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2012

Retrospeksi 2011 dan Prospektif 2012


UH YEAH!
Udah lama banget gw ga nulis di blog. Terakhir kali gw nulis 24 September 2011 padahal sekarang udah 30 Desember 2011. Di tulisan ini gw pengen sharing mengenai apa yang gw alami sepanjang tahun 2011. Dimulai awal tahun 2011, gw menulis sebuah resolusi untuk di tahun ini, tepatnya gw tulis pada tanggal 5 Januari 2011. Puji Tuhan, Ia selalu menyertai dalam resolusi yang ingin dicapai dan dikerjakan. Meskipun karena kesalahan dan ketidaksetiaan gw dalam menjaga komitmen, gw pun beberapa kali gagal dalam beberapa aspek dari resolusi, tapi yang berlalu telah menjadi masa lalu jadi ga perlu patah semangat karena kesempatan di kemudian hari masih ada, bukan berarti kita tidak melakukan langkah konkret.

Dilanjutkan dengan perkuliahan semester 2, pada semester itu, gw mengambil 23 SKS, terdiri 20 SKS MK wajib dan 3 SKS MK lintas fakultas, manajemen. Gw bersemangat sekali mengikuti perkuliahan pada semester 2 karena gw memang pengen ambil mata kuliah manajemen. Gw sangat suka dengan manajemen. Oleh karena itu, gw pun belajar sungguh-sungguh untuk kuliah manajemen. Namun, ada hal yang pernah gw sedikit tinggalkan, yakni perkuliahan MK wajib di psikologi lainnya. Selain memang beberapa mata kuliah abstrak menurut gw, sehingga sulit, gw kurang memperhatikan pembelajaran yang gw lakukan pada beberapa mata kuliah tersebut sehingga prestasi yang gw raih pun tidak maksimal. Kontras dengan belajar manajemen yang begitu semangat. Alhasil, gw pun mulai merenung dan tersadarkan ketika nilai hasil UTS manajemen tidak sesuai dengan ekspetasi dan usaha yang gw lakukan. Dapat dikatakan bahwa gw mendapat nilai yang sangat buruk. Gw pun sempat tidak terima karena dosen tersebut mengatakan bahwa jawaban gw common-sense. Maka, gw menyimpulkan bahwa ia seorang dosen berorientasi text-book. Dari hal itu, gw mulai mengubah sikap dan tingkah laku pada mata kuliah wajib di psikologi. Setelah UTS, gw berusaha semaksimal mungkin. Hingga pada akhirnya, indeks prestasi gw mengalami penurunan yang signifikan di semester 2. Namun, setelah mengikut kuliah semester pendek, untunglah indeks prestasi meningkat.

Selama mengikuti semester pendek (kalau tidak salah, Juni, Puji Tuhan, gw memiliki kegiatan lain. Kegiatan ini sungguh bermakna bagi gw. Pertama, kesempatan bekerja, mengajarkan bahasa Inggris. Kedua, gw melibatkan diri dalam kegiatan awal mahasiswa baru dan menjadi seorang mentor. Gw sebelumnya memang pengen belajar cari duit sendiri. Dengan mengajar, gw belajar untuk lebih mandiri dan merasakan bagaimana orang bekerja. Selain itu, gw berantusias untuk mengajar karena senang sekali membagikan ilmu pengetahuan, tidak hanya itu saja, gw menikmati interaksi dengan siswa apalagi dengan anak-anak kecil yan lucu-lucu. Namun, mengajar itu ternyata cukup sulit apalagi mengajar anak-anak, perlu kesabaran yang luar biasa, hehe. Selain itu, tanggung jawab moral yang gw miliki, gw berusaha untuk memberikan terbaik kepada mereka dengan menanamkan nilai-nilai dalam berkehidupan, terutama dalam bersosialisasi. Sangat sulit sekali apalagi dengan timbulnya suatu tantangan yang tertuju kepada gw pribadi, hehe. Menjadi mentor, gw belajar begitu banyak hal di sini, seperti public speaking, bagaimana melakukan debriefing, memeriksa esai, belajar materi mentoring, dan sebagainya sehingga semakin menambah ilmu pengetahuan, mengasah kemampuan dan keterampilan, serta tak sengaja bahwa gw menemukan potensi yang gw miliki dan gw berkesempatan untuk mengembangkannya.

Mengajar dilakukan secara reguler hingga saat ini, semester 3, gw sudah bertekad dari awal bahwa pengen maksimal dalam hal perkuliahan, dari belajar mandiri, kelompok, pengerjaan tugas, dan sebagainya. Gw pun termotivasi karena mata kuliah semester 3 merupakan mata kuliah yang lebih jelas, tidak abstrak seperti mata kuliah di semester lalu. Dan gw sungguh menikmati perkuliahan di semester 3. Tugas-tugas yang menyenangkan, teman-teman kelompok yang luar biasa, menemukan sahabat baru, dan mengerjakan kepanitiaan yang Tuhan berikan dalam penjangkauan mahasiswa di kampus psikologi. Meskipun tetap ada namanya kesulitan dan kekuatiran, selama semester 3, cukup banyak hal yang harus dikerjakan dalam hal kuliah, belum lagi mengajar dan kepanitiaan sehingga gw pun harus mengatur waktu untuk dapat mengerjakan segalanya. Sempat kali jatuh dalam hal memanajemen waktu, kadang prokrastinasi, dan cukup stress. Satu demi persatu semua pun terlewati, gw percaya bahwa Tuhan lah yang selalu setia menyertai dan memampukan hingga saat ini. Thanks God! Sekarang ini tanggal 13 Januari 2012, gw sudah liburan sembari masih menunggu nilai-nilai akhir selama kuliah di semester 3. Hehehe. Puji Tuhan lagi, hingga saat ini, nilai yang sudah keluar memuaskan. Tinggal menunggu kejutan dari nilai lainnya deh hahaha.

Berhubung dengan tahun baru, mumpung momen masih tahun baru juga hehe. Gw pengen menulis apa yang akan menjadi resolusi tahun 2012. Sengaja gw tulis supaya gw bisa selalu diingatkan dan kuat menjaga komitmen tersebut. Resolusi gw tahun ini adalah menjadi orang yang dewasa dalam segala hal. Hal tersebut adalah relasi dengan Tuhan serta aplikasi konkretnya, menjalin relasi lebih baik dengan orang lain, manajemen waktu, mengelola keuangan, lebih aktif dan produktif, dan intinya, tidak mau sama seperti yang telah berlalu, ingin selalu diperbarui setiap harinya. Well, all the best for us! AMEN! GBU :D

Jumat, 09 September 2011

Menjelang Kuliah Semester Tiga




       Ya, jadwal yang di atas adalah jadwal kuliah saya pada semester tiga di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Dapat jelas dilihat bahwa mata kuliah (MK) yang diambil terdapat 7 MK dengan jumlah 20 SKS. Yang terdiri dari 18 SKS wajib dan 2 SKS pilihan (lintas fakultas).
      Untuk memperjuangkan pengisian isian rencana studi (IRS) tidak dapat dikatakan mudah, disebabkan oleh pengisian IRS ini bersamaan dengan PSAF Kamaba Psikologi 2011, sebuah acara khusus mahasiswa baru psikologi angkatan 2011. Saya mengikuti kepanitiaan tersebut dengan menjadi seorang mentor. Saat itu, para mentor sedang membantu bidang evaluasi untuk memeriksa dan menilai esai para mahasiswa baru, namun saat jam 9, kami dibolehkan untuk mengisi IRS. Sebelumnya, telah diumumkan di SIAK-NG bahwa pengisian IRS akan dimulai jam 9 pagi, tetapi kenyataannya adalah sejam lamanya IRS baru dapat diisi. Biasanya memang ketika sedang dalam pengisian IRS hari pertama, server seringkali mengalami error maka harus berkali-kali me-reload halaman web SIAK-NG. Hal itu pun dialami saya. Hingga akhirnya, SIAK-NG dapat “terjinakkan”.
      Perencanaan pemilihan kelas untuk semester tiga sebenarnya tidak terlalu diperhatikan. Saya ditawarkan untuk sekelas dengan beberapa teman saya sehingga saya hanya mencocokkan saja. Pengisian IRS dapat dikatakan lancar, meskipun tidak mendapatkan kelas pilihan. Awalnya, saya berniat untuk mengambil 18 SKS saja, SKS wajib semester tiga karena pertimbangan bahwa kesibukan dalam kuliah di semester tiga bertambah. Akan tetapi, setelah dipikirkan kembali, saya memang berencana untuk lulus kuliah dalam waktu 3,5 tahun karena alasan umur dan lain halnya (hahaha). Agar SKS lebih cepat terpenuhi, saya mengambil 2 SKS lagi dari MK pilihan atau lintas fakultas. MK pilihan yang disediakan tiap semester selalu terbatas, dibuka hanya satu atau dua kelas. Maka dari itu, mahasiswa berebutan atau istilahnya “berperang dengan teman sendiri” untuk mendapatkan kelas.
      Sebenarnya, saya mah tidak terlalu memusingkan kelas pilihan. Saya percaya saja bahwa saya akan diberikan kelancaran dalam mendapatkan MK. Saya berdoa dan berusaha saja ketika ada kelas pilihan yang dibuka. Dapat atau tidak dapat, saya tetap bersyukur. Ada MK pilihan yang sejak awal menarik bagi saya, yakni pendidikan keluarga. Saya tertarik untuk mempelajari MK tersebut karena menurut saya, MK itu sangat applicable dalam kehidupan. Sayangnya, posisi pilihan saya sudah berada melebihi kapasitas yang ada. Oleh sebab itu, saya mengurungkan niat untuk memilihnya dan menunggu kemungkinan ada MK pilihan selanjutnya atau MK lintas fakultas akan dibuka.
      Berpikir mengenai MK lintas fakultas (linfak), biasanya selalu tampil dalam daftar mata kuliah di SIAK-NG, namun beberapa dapat saja tidak muncul, melainkan diurus secara manual ke fakultas yang dituju. Sejak hari pertama pengisian IRS, memang sudah beberapa MK linfak telah muncul, namun yang tertera itu adalah MK yang kurang menarik bagi saya dan mungkin akan menyulitkan karena merupakan MK linfak berasal dari disiplin ilmu pengetahuan alam. Oleh karena itu, saya tidak memilih salah satu yang telah muncul tersebut. Saya ingin mempelajari suatu MK yang benar-benar ingin saya pelajari, misalnya MK yang menarik, memiliki manfaat bagi saya, dapat diaplikasikan secara konkret, dan lebih baik masih berkaitan dengan psikologi. Terpikirkan oleh saya adalah memilih MK linfak dari program studi sastra Jepang di fakultas ilmu budaya (FIB) dengan MK bahasa Jepang. Akan tetapi, MK tersebut belum tampil di SIAK-NG, perlu mencari informasi dan mengurusnya langsung di fakultas. Saya berkeinginan sekali untuk mempelajari bahasa Jepang karena sejak lama menyukai bahasa Jepang dan telah mempelajarinya ketika SMA sehingga tidak akan begitu menyulitkan bagi saya. Oleh karena itu, saya mengusahakannya dengan mencari informasi langsung ke subbagian akademik FIB serta kantor program studi. Akan tetapi, saya tidak mendapatkan penjelasan yang signifikan dan jelas malahan terkesan seperti “dilempar-lempar”, serta dengar-dengar dari teman-teman FIB, MK yang saya mau pilih di sana berkuota sangat terbatas dan banyak sekali peminatnya bahkan mereka pun kesulitan untuk dapat berkuliah MK itu jadi saya berpikir untuk tidak terlalu “memperjuangkannya”.
      Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 24 Agustus, saya hanya ingin melihat SIAK di internet. Tidak disangka ketika membuka tab jadwal kuliah, terdapat MK linfak baru dibuka, koperasi. MK tersebut merupakan MK yang diselenggarakan di fakultas ekonomi dan MK itu dibuka oleh departemen ilmu ekonomi. Saya tidak terlalu “nafsu” untuk langsung mengambil MK itu. Namun, tidak lama kemudian, saya memilih MK tersebut. Dalam pikiran saya, jika masih ada kesempatan untuk menambah SKS, tambah saja, tetapi saya tetap pertimbangkan. Sebenarnya, saya belum pernah belajar mengenai koperasi. Yang saya hanya tahu adalah sekadarnya sekali. Untuk ketertarikan terhadap MK tersebut, biasa saja. Oleh karena itu, pada malamnya, saya mencari informasi mengenai koperasi itu sendiri di internet. Meskipun tidak terlalu banyak dan mendalam informasi yang saya dapat, saya mulai tertarik dengan MK tersebut. Berpikir mengenai ketertarikan, sebenarnya dalam memilih MK, tidak hanya ketertarikan yang dibutuhkan, tetapi tujuan mengikuti kuliah MK tersebut dan manfaat apa yang kelak didapat. Oh ya, saya juga bertanya-tanya mengenai MK ini, seperti sistem kuliah, tugas, dan bentuk ujiannya kepada teman saya. Akhirnya, saya semakin memantapkan pilihan MK koperasi tersebut dan saya bersyukur.
      Hari demi hari berlalu, tidak terasa bahwa kuliah semester tiga akan segera dimulai, juga perjuangan pun akan dijalani. Menjelang seminggu hingga tiga minggu sebelum kuliah, nama dosen pengajar di fakultas psikologi baru bermunculan dan MK baru, baik linfak maupun pilihan juga dibuka pendaftaran melalui SIAK. Melihat dosen-dosen yang akan mengajar saya di semester tiga, saya terkejut dan senang karena para dosen tersebut merupakan dosen yang menurutku, oke, baik, dan berkualitas. Beberapa dosen yang kuharapkan akan mengajarkanku pun menjadi dosenku di semester tiga ini. Lagi-lagi, saya bersyukur.
      Menjelang beberapa hari sebelum kuliah, ada suatu persyaratan yang belum terpenuhi untuk dapat mengikuti perkuliahan, yakni IRS belum disetujui oleh dosen pembimbing akademis (PA). Awalnya, saya tidak kuatir mengenai persetujuan tersebut karena saya sudah melaporkan bahwa IRS saya sudah mencukupi dan hanya tinggal disetujui oleh dosen PA, namun seminggu akhir sebelum kuliah saya sedikit mulai takut karena hal ini. Saya tahu dan yakin bahwa dosen PA saya akan menyetujui IRS saya. Komunikasi kami juga cukup baik. Seperti yang dia katakan, jika ia sempat di hari awal liburan kampus, ia akan menyetujui langsung, tetapi jika tidak, pihak akademik di fakultas lah yang akan menyetujui. Bahkan, beliau pernah bertanya mengenai SKS yang mungkin ada lagi yang ingin ditambah. Dengan hal itu, saya percaya bahwa beliau memperhatikan IRS saya. Hari Kamis tanggal 8 September, pagi menjelang siang hari, saya mengecek IRS saya. Dan, ternyata IRS saya sudah berstatus ‘disetujui’. Wah, rasanya senang sekali dan ketakutan yang sempat dialami pun sirna. Padahal, malam kemarinnya sedikit kuatir. Saya berdoa dan percaya bahwa hari besoknya IRS saya sudah disetujui dan ternyata tergenapi doa dan percaya tersebut.
      Dari pengalaman ini, saya memperoleh suatu insight bahwa segala sesuatu tidak perlu kuatir. Orang berkata boleh kuatir, namun tidak berlebihan. Tidak kuatir pun dapat menjadi bahaya. Oleh karena itu, yang dilakukan adalah doa, usaha, dan percaya. Jika belum ada jawaban, tetaplah bertekun. Tuhan sudah mempersiapkannya sejak dari awal. Jika jawaban tidak, Ia telah mempersiapkan dan memberikannya yang lebih baik lagi dan tepat bagi kita. Tinggal sikap percaya saja yang perlu dikuatkan. Selain itu, perencanaan memang sangat baik, tetapi jika dengan sikap hati dan motivasi yang tidak benar atau baik apalagi sangat berambisi, jangan bersusah hati jika apa yang direncanakan tidak sesuai dengan harapan sebelumnya. Dalam pengalaman ini, saya tidak terlalu fokus dalam merancangkan IRS karena nama dosen tidak tertera, mahasiswa lain pasti akan berebutan, dan seterusnya. Saya melakukan apa yang dapat saya lakukan, seperti mencocokkan perencanaan jadwal kuliah dengan beberapa teman saya dan sebagainya, lalu menyerahkannya kepada Tuhan sepenuhnya. Jika ada masalah, saya percaya Tuhan akan menuntun saya dan membukakan “jalan-Nya”. Well, perkuliahan akan segera dimulai dua hari lagi, tepatnya tanggal 12 September. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi selama perkuliahan di semester tiga, tetapi saya tetap optimis dan siap berusaha yang terbaik untuk semester tiga. Tentunya, bersama Tuhan, saya percaya bahwa saya akan disanggupkan. Hidup saya adalah milik-Nya sehingga saya percaya kepada-Nya yang berkuasa kepada hari-hari dan masa depan saya. Mungkin pengalaman yang saya tulis adalah hal kecil atau sederhana, tetapi saya percaya hal kecil ini merupakan tanda-tanda atau proses untuk hal besar yang akan dinyatakan.

Teriring salam manis dan doa (halah),
GOD bless us!

Minggu, 26 Juni 2011

Sakit, bukan penentu mutlak untuk tidak produktif

                  Sebelumnya, apa yang dimaksudkan dengan “sakit”? Saya pernah membaca buku yang saya lupa apa judulnya. Kira-kira begini, sakit adalah suatu kondisi, baik fisik maupun mental, yang sedang tidak sehat atau keadaan yang tak normal. Jadi, bisa dikatakan kalau kondisi jiwa lagi tidak “fit,” mungkin stres dkk. dapat disebut sakit juga. Kemudian, apa yang diartikan dari “produktif”? Menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia), produktif adalah bersifat atau mampu menghasilkan. Selama ini, saya hanya tahu bahwa sakit terbatas pada badaniah saja. Saya membuat judul dari tulisan  ini dengan makna bahwa sakit itu tidak membatasi seseorang menghasilkan sesuatu, baik karya maupun sebagainya. Akan tetapi, bisa saja sakit tertentu membutuhkan seseorang untuk mengurangi aktivitas bahkan diharuskan istirahat total. Jadi, tergantung lagi dengan jenis sakit apa yang dialami oleh seseorang.

            Dengan kepala yang sedang cenat-cenut alias pusing, sambil diiringi indah dan merdunya suara Taeyeon, SNSD, dan lagu Korea lainnya, serta setelah menengguk satu sachet madu, gue mau cerita-cerita tentang apa yang gue lakukan dan pikirkan sepanjang hari ini. Baiklah, langsung saja. Begini ceritanya, gue, Peter Samuel Oloi, telah menderita penyakit sejak kemarin, yang gejalanya sudah muncul sehari sebelum kemarin, hahaha betewe agak lebay ye.
           
            Hari Jumat, gejala penyakit ini sudah timbul, gue mengalami radang tenggorokan yang menyebabkan gue jadi agak malas untuk makan padahal biasanya gue gila makan, hahahaha ga juga deng. :P Nah, besoknya, hari Sabtu, makin menjadi-jadi nih penyakitnya, kepala gue pusing-pusing dan hidung tersumbat, huhuhu. Yah, flu dan pusing merupakan penyakit yang biasa dan paling sering gue alami selain masuk angin dan kadang diare, hehehe, tapi jangan dikira flu itu penyakit biasa, gue baca judul sebuah artikel tentang kesehatan, ternyata flu berkepanjangan bisa berbahaya, tapi sayangnya gue belum baca keseluruhan, hehe. Well, pagi hari sampe siang Sabtu itu, badan gue udah lemes banget, mau mikir, capek banget, yah, jadi kurang bergairah gitu deh menajalani hari, pengennya tiduran aja, tapi, gue malah beraktivitas di luar, hehe. Sekitar jam enam ato tujuan, gue baru sampe di kost nih. Badan udah ga bisa diajak kompromi sebenarnya, tapi malam itu, gue udah ada janji untuk diskusi tugas mata kuliah secara online. Dengan tenaga yang tersisa sembari memaksakan diri untuk tetap bisa konsentrasi, gue berhasil untuk diskusi itu, hehe bahkan gue menikmati kelangsungan diskusi itu. :) Nah, setelah diskusi selesai, mata gue udah semakin berat nih alias ngantuk banget plus perut gue sakit maka gue langsung cepat tidur aja deh.

            Selamat hari Minggu, udah hari Minggu aja, gue bangun tadi pagi kira-kira sekitar jam setengah enam. Kepala gue pusing banget. Gue masih ogah-ogahan untuk bangun. Yang seharusnya gue saat teduh alias berdoa dan baca buku renungan dari Alkitab, nah, gue tunda dulu karena badan ga enak dan kayaknya malahan jadi ga menikmati saat teduh di pagi itu. Alhasil, gue denger khotbah dari radio di kamar dulu aja. Di pagi itu, gue pengen cepat-cepat sarapan biar ada tenaga, tapi gembok kostan belum dibuka. Untungnya, tak lama kemudian, gembok pun dibuka sama bapak kost. Gue udah berencana pengen sarapan bubur ayam jadi gue datang ke tempat makan yang jual bubur ayam, lokasinya di depan gerbang Kutek, kukusan teknik, daerah kostan gue. Semangkuk  bubur ayam yang hangat, cukup membuat gue merasa lebih segar dan bertenaga. Setelahnya, gue balik lagi nih ke kostan. Tanpa ngapa-ngapain lagi, gue merebahkan badan di atas tempat tidur lalu tak lama kemudian gue tertidur lagi. Gue mikirnya gini, kalo orang sakit, baiknya istirahat yang banyak jadi gue tidur lagi deh. Kemudian, hampir sekitar jam setengah sepuluh, gue kebangun dari tidur gue. Yah, badan gue terasa lebih enakkan dibandingkan tadi paginya, tapi ya gitu, kepala gue masih pusing dan pileknya bikin ga nahan. Hoalah, jam sepuluh itu, gue sebenarnya ada kegiatan di tempat gue akan mengajar, tapi, karena sakit, gue minta izin ga bisa hadir ke acara itu. Salahnya, gue ngabarin itu setengah jam sebelum acaranya dimulai, kelupaan pas tadi paginya, huhu.
           
            Nah, yang gue lakuin pas bangun lagi itu adalah cari makan lagi, haha. Gue berprinsip, kalo gue lagi sakit, ga perlu makan obat ini-itu, cukup makan banyak aja meskipun gue minum sirup obat batuk hitam juga sih, hehe. Dan, gue sengaja makan juga agar berat badan gue ga turun drastis karena pernah ketika gue sakit, badan gue langsung mengurus, huhu. Akhirnya, gue makan di sebuah warteg dan gue pun kenyang lalu balik ke kost. Gue pun tidur lagi sampe siangnya gue bangun lagi. Ketika bangun, gue makan lagi, haha buset amat yak, kerjaan gue selama sakit hari ini cuma makan dan tidur aja, haha. Oh ya, gue sempat online sih sepanjang pagi hingga siang hari, tapi males-malesan gitu jadi ga lama gue udahan online-nya, hehehe.

            Kalo ga salah ya, setelah makan siang itu, gue mulai mikir-mikir, gue sakit jadi ga ngapa-ngapain nih dan itu ga bagus banget, huhu. Gue sempat mikir pengen bikin sebuah cerita tentang kisah TKW yang disiksa, pengen baca buku, dan mulai baca bahan-bahan untuk menulis sebuah esai, tapi karena kepala gue pusing, gue merasa ga sanggup, hahahaha. Eh, malahan gue tidur lagi -__- capek deh.

            Sore-sore, gue bangun lagi sekitar jam empat. Kepala gue masih pusing dan badan pegel-pegel, tapi pilek gue udah agak mendingan. Nah, gue mulai bertekad nih pengen bisa ngelakuin sesuatu yang produktif. Gue teringat dengan perkataan seorang teman baik bahwa segala sesuatu itu diawali oleh sebuah mind-set. Kalo kita berpikir bahwa kita bisa melakukan sesuatu, ya, kita bisa melakukan itu. Kondisi sakit bukan menjadi penghalang untuk seseorang menghasilkan suatu karya. Gue jadi teringat dengan orang-orang yang sakit atau yang memilikiki keterbatasan fisik saja dapat menghasilkan suatu karya. Gue termotivasi untuk mulai melakukan sesuatu sejak sore hari itu selain makan dan tidur, hehe. Apa yang gue pikirkan? Gue kepengen nulis, itu yang terlintas dalam pikiran gue. Gue memikirkan apa yang akan gue tulis hingga akhirnya, gue menulis ini, terharu banget kan. :’) hahahaha. Gue juga pernah diberikan saran oleh seorang penulis, jika ingin menulis, langsung aja nulis, tinggal dirapihin aja tulisannya aja nanti. Benar juga, kalo kebanyakan mikir pengen nulis apa, yang ada malahan ga nulis-nulis, hehe.

            Ga kerasa udah jam tujuh aja. Kepala gue masih pusing, huhu, tapi setidaknya gue puas karena gue bisa nyelesain tulisan ini. Ke depannya, gue pengen melakukan segala sesuatu dengan optimal, maksimal, dan produktif plus memiliki pola hidup yang sehat, halah awas aja kalo omong doang (omdo)!, hahaha. Dalam keadaan sehat atau sakit, bersyukurlah. Ketika sehat, lakukanlah segala sesuatunya yang terbaik. Ketika sakit, bersyukurlah karena diingatkan bahwa sehat itu penting dan ditegur jika ketika sehat, tidak melakukan apa-apa. Ada maksud tertentu di balik sehat atau sakit. Sakit adalah bukan penentu mutlak untuk tidak produktif.