Senin, 12 Januari 2015

Berjalan Teguh Mencapai Tujuan



Dalam perjalananku hari ini menuju kampus, aku sengaja mengakses renungan harian sebagai saat teduhku dengan menggunakan handphone. Beberapa renungan telah kubaca, namun salah satu menarik perhatianku. Renungan ini berjudul “Tetaplah Berlari”. Sebagai seseorang yangpengejar prestasi, aku tergerak membacanya. Mungkin saja Tuhan akan berbicara atau memberikanku masukan dalam prosesku mencapai tujuanku di tahun ini. Rupanya, renungan ini berupa puisi yang dituliskan seseorang yang pernah mengalami kegagalan. Puisi tersebut mengungkapkan kebiasaan beberapa orang yang suka melihat orang lain dalam mengejar sesuatu. Seringkali kita menoleh ke kanan atau ke kiri, melihat pencapaian orang lain. Ini pun membuat kita merasa tidak nyaman. Puisi ini melanjutkan bahwa padahal setiap manusia telah diberikan berkatnya sendiri-sendiri. Ya, Tuhan memiliki rencana bagi setiap kita manusia. Daripada memusingkan orang lain, sebaiknya kita fokus pada bagian kita. Bagian yang harus kita kejar, kita capai. Bagian yang telah menjadi panggilan kita. Fokus pada tujuan dan tindakan yang kita lakukan untuk mencapainya adalah yang paling tepat. Bahkan dari pengalaman ini nantinya, orang pun akan semakin terinspirasi. Demikian ulasan dan pemaknaan yang bisa kuberikan dari artikel renugan tersebut. Aku jadi ingin bersajak bagi kita semua yang sedang berjuang untuk mencapai sesuatu. Kiranya menjadi berkat.


Tak perlu, tak perlu lagi aku melihat orang-orang sekelilingku,
Untuk mengamati apa yang sudah mereka capai dan sudah sampai manakah mereka.
Karena tak ada gunanya juga, tidak berdampak bagiku untuk mencapai apa yang menjadi cita-citaku.
Aku sadar dan harus selalu mengingat bahwa Tuhan telah mengaruniaiku.
Ia telah memanggilku dalam rencana ini.
Ia pun yang akan menuntunku sampai akhir.
Segala sesuatu tiada kebetulan dan segala sesuatu memiliki makna dan tujuan yang baik dari-Nya.
Mungkin memang harus begini,
Ia telah merencanakan segala sesuatunya.
Harapanku adalah kiranya pengalaman ini dapat menjadi berkat.
Mungkin Tuhan sedang atau akan memakaiku karena ini.
Ya mungkin saja.
Yang bisa kulakukan kini adalah belajar fokus.
Berjuang sebaik mungkin dan berjalan bersama-Nya.
Hingga pada akhirnya nanti,
Ia akan menghadiahiku sesuatu yang bernilai dan mahal tak terhitung harganya.
Rencana-Nya adalah yang terbaik, bukan rencana kegagalan atau kecelakaan.
Terpujilah nama Tuhan sampai selamanya.
Amin.

Sabtu, 13 September 2014

Kerja Keras atau Kerja Cerdas?

Ayo mau pilih yang mana? Keras atau cerdas? Keduanya bagus, tapi yakin paling sesuai sama diri lo? 

Kali ini, gue mau berbagi cerita. Gue decribe diri gue as pekerja keras, namun tetiba gue disonan karena kayanya kerja keras itu cederung out of date alias kuno dan kurang seru kalo gue ga coba kerja lebih cerdas. Apa dan bagaimana kerja cerdas? Ya gue sih juga belum tahu nih apa dan harus gimana karena gue pun sedang mencari cara supaya bisa kerja secara cerdas. Apa yang harus gue lakukan? Apa yang kita bisa lakukan? Banyak, baca buku, ngobrol sama orang, pikirin arti cerdas bagi kita, dan coba lakukan kerja cerdas. 

Sebenernya gue mau cerita atau nulis apa sih? Hahaha. Seiring waktu berjalan, gue akan menemukan gimana cara kerja cerdas. Yang kepikiran sih sejauh ini, gue terinspirasi dari definisi perilaku inovatif itu sendiri sih, well kita lihat dulu masalahnya, kita coba pikirin tuh solusinya hingga ngeluarin ide-ide solutif terus minta feedback dan implementasiin tuh. Ya, bolehlah dievaluasi supaya lihat lagi apakah ide itu udah tepat apa belum. Jadi, maksudnya, supaya kita tahu kerja cerdas gimana, kita perlu mikir, ngeluarin ide, terus ngelakuin deh. 

 The End. Kalo gue udah nemuin kerja cerdas versi gue, pengen gue share ah.

Sayangi Dirimu: Bukan G*rnier

Pernahkah kamu merasa? “Duh, saya sepertinya belum baik mengerjakan tugas ini.”, “Ya ampun, gue kok bego amat sih.”, “Wah, kayaknya apa yang gue kerjakan tak bernilai.”, atau “Emang nih gue yang engga mampu.” 

Gue ingin menulis sesuatu dan menyampaikan pendapat gue mengenai perkataan yang mungkin tak jarang juga kita pernah ucapkan. Ini memang menarik kalau gue menulis ini dengan dibuat sedikit ilmiah agar lebih dapat dipahami dengan baik. Akan tetapi, gue memilih untuk menulis dengan santai aja, ga terlalu mikir banyak atau dalem, tapi pengennya bisa mengena dan memberikan kebaikan pada siapa pun yang membaca. 

Well, gue coba fokus ya mengenai ungkapan-ungkapan yang orang bisa sampaikan itu. Gue sendiri suka bertanya-tanya, mengapa sih orang bisa segitunya ngomong kaya gitu sama dirinya sendiri? Apa dia memiliki standar yang terlalu tinggi? Apa ia terlalu berlebihan memikirkan atau merasakan sesuatu? Atau memang ada sifat orang yang menyebabkan dia seperti itu? Ya, akan banyak kemungkinan penyebabnya sih, apalagi gue sadar bahwa perilaku manusia itu ditentukan oleh buanyaknya macem hal. Hehe. 

Begini nih ya, gue suka gemes sendiri. Kenapa gitu orang ga coba untuk bersyukur? Coba untuk berterima kasih pada diri sendiri, melihat segi kekuatan atau positif yang dia miliki, atau kalaupun kurang, kita bisa belajar dari pengalaman tersebut. Ya, memang orang berbeda dan gue sadar bahwa ga boleh kadang segampang ini bilang begitu. Gue pun kalo berperan jadi “konselor”, gue pun harus memahami dulu. But ya now, gue pengen meng-encourage people, pengen memotivasi people bahwa setiap orang itu punya kekuatan atau kelebihan masing-masing, di samping kelemahan atau ketidaksempurnaan yang manusia miliki. 

Ya memang kadang ga mudah ya untuk bisa jalanin sesuatu atau mencapai sesuatu, termasuk untuk berubah. Mengubah kebiasaan diri yang membuat kita ga nyaman menjadi kebiasaan baru yang sebenernya akan memberikan kebaikan yang luar biasa. Semua butuh proses memang, waktu bisa aja ga sebentar, tapi harus yakin bahwa perubahan pun akan bisa terjadi tanpa memandang apa pun. Maksud kalimat gue ini adalah ayo cobalah kita lebih sayang sama diri kita sendiri. Mulai dari kita bisa melihat hal positif pada diri kita, mensyukuri apa yang terjadi dan tak lupa mengapresiasi diri sendiri, melihat sisi pembelajaran dari sebuah kesulitan atau kegagalan, hingga mengontrol diri kita agar tidak menurunkan harga diri, ya setidaknya kita tetap bisa stay strong and keep moving gitu. 

Nah, jadi kesimpulannya, kalo mau hidup kita itu baik, at least merasa nyaman sedikit di tengah kesulitan yang terjadi, kita harus tetap kuat dan yakin bahwa kita telah melakukan yang terbaik, bagimanapun itu proses dan apapun itu hasilnya. Bagus juga kalo kita bisa melihat sisi positif atau peluang yang mungkin ada yang bisa membantu kita. Karena kalau bukan kita sendiri yang meg-treat diri kita sendiri seperti ini, ya kita akan terus bilang hal-hal yang ga baik kepada diri kita sendiri.

Bersyukurlah karena tak ada yang kebetulan

Puji syukur kepada Tuhan. Tiada hentinya, saya selalu berterima kasih kepada Tuhan atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup saya. Selalu berusaha menyakini cinta dan kasih Tuhan atas segala yang terjadi pada diri saya pun menjadi kebiasaan saya akhir-akhir ini. 

Siang ini, tanggal 13 September 2014, di kala senggang membaca bahan untuk tugas akhir saya, saya tergerak untuk menulis sesuatu. Saya ingin berbagi karena Tuhan telah memberikan banyak kepada saya dan berharap siapa pun yang membaca memeroleh berkatnya juga. 

Seminggu ini adalah seminggu yang saya tak duga. Mengapa Tuhan teramat baik kepada saya? Saya tidak menyangka bahwa saya mendapatkan kesempatan belajar di sebuah perusahaan yang saya impikan dan minati sejak lama. Sangat bersyukur karena Tuhan rupanya telah merencanakan bahwa diri saya akan berada di tempat ini. Hal ini membuat saya menyadari bahwa semua ini tak terlepas dari keterlibatan Tuhan, demikian juga saya percaya bahwa Tuhan akan selalu bersama saya dalam kehidupan saya selanjutnya. 

Persiapan pun saya lakukan agar saya dapat bekerja dengan baik di perusahaan ini. Dimulai sejak lama, saya sering membaca profil mengenai perusahaan ini, kemudian melakukan obrolan dengan sahabat-sahabat yang pernah bekerja di sana, dan akan merancangkan tujuan apa yang hendak saya capai pada perusahaan ini. Yang saya sadari bahwa saya pun harus menjadi saluran berkat bagi perusahaan karena itu telah menjadi kehendak Tuhan. 

Menjadi saluran berkat mengingatkan saya pada seorang Bapak yang sudah dua puluh tahun bekerja di perusahaan ini. Beliau bercerita tentang pengalamannya dalam hidup, termasuk gairah dan minat beliau pada manusia. Sangat takjub dan tak menyangka bahwa saya melihat ada kesamaan dengan beliau, yaitu memiliki dorongan untuk berdampak bagi orang lain. Saya ingat sekali perkataan beliau bahwa tujuan membuat orang lain tersenyum adalah hal yang baik. Sederhana sekali bukan? Namun, apakah berdampak, ya saya percaya itu akan memberikan dampak, apalagi jika ada ketulusan di baliknya. Beliau mengingatkan saya mengenai keberadaan diri saya. Meskipun saya bekerja di perusahaan ini, bukan berarti saya hanya mengerjakan tugas hingga menyelesaikannya dengan baik, bukan saja saya mendapatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai ilmu dan praktik yang terjadi dalam perusahaan ini, melainkan apa hal yang bisa saya kontribusikan agar orang di sekitar saya merasakan dampak positif dari keberadaan saya. Saya percaya bahwa Tuhan akan memimpin saya dan menyertai saya hingga saya dapat melakukan apa yang Ia kehendaki pada diri saya. 

Bukan suatu kebetulan, tak ada suatu kebetulan bahwa saya bertemu dengan beliau yang di minggu pertama memberikan inspirasi yang begitu luar biasa, yang mampu mengingatkan saya terkait panggilan hidup, visi hidup, bahkan kehendak Tuhan atas hidup saya di dunia ini. Bersyukur sekali, saya merasa diberkati oleh kasih Tuhan yang selalu mengingatkan saya untuk selalu mengasihi orang lain. Saya menyadari saya tak sempurna, saya dapat melakukan kekeliruan, namun ya Tuhan selalu punya caranya sendiri untuk meneguhkan saya dalam berjalan. Puji Tuhan.

Sabtu, 31 Mei 2014

Berdamai dengan Masa Lalu



Setiap manusia selalu menghadapi masalah dalam kehidupannya. Melalui pengalaman mengikuti sebuah seminar mengenai bisnis, masalah didefinisikan sebagai adanya diskrepansi atau kesenjangan antara kondisi ideal dan realita. Misalnya, target bisnis pada penjualan seharusnya mencapai angka sekian, tetapi kenyataannya penjualan tidak mencapai target yang telah disepakati. Saya pun ikut meyakini definisi tersebut karena pembelajaran di kuliah saya pun memandang demikian. Dalam konteks perkuliahan saya, masalah selalu dikaitkan dengan perilaku yang seharusnya ditampilkan tidak sesuai dengan apa yang ditampilkan. Contohnya, masalah mahasiswa pada umumnya adalah manajemen waktu. Mahasiswa kini memiliki beragam kegiatan, baik kegiatan yang bertajuk pengembangan atau pendalaman minat atau kegiatan yang sifatnya melatih kualitas diri dan mempelajari peran tertentu. Ini akan menjadi masalah ketika berdampak buruk pada mahasiswa, seperti terlambat mengumpulkan tugas atau merasa tertekan dalam proses mengerjakan tugasnya. Demikian juga dengan bisnis, penjualan tidak mencapai target akan mengganggu aktivitas bisnis karena kurangnya penerimaan yang membiayai roda perjalanan bisnis, mungkin ekstremnya adalah bisnis mengalami kerugian hingga mencapai kondisi “gulung tikar”.

Mungkin sebagian orang tidak mengharapkan masalah terjadi pada diri mereka. Akan tetapi, sepertinya masalah tidak dapat luput dari kehidupan manusia. Hal ini disebabkan kehidupan berjalan dinamis, selalu muncul perubahan. Manusia didorong untuk selalu mampu beradaptasi atau berusaha mencapai hal maksimal agar mampu bertahan. Berfokus pada diri individu, masalah seringkali berujung pada pilihan, yaitu ingin menyelesaikan atau tidak. Jika menyelesaikannya, manusia akan belajar dan berkembang. Jika tidak, masalah tersebut akan selalu menjadi masalah hingga suatu saat mungkin akan kembali muncul pada dirinya. Yang menjadi tantangannya adalah respons yang segera muncul ketika manusia merasakan atau mengalami masalah pada dirinya adalah ketidaknyamanan, baik pikiran maupun perasaan. Keputusan selalu kembali kepada manusia tersebut dalam menanggapi masalahnya.

Dalam menyelesaikan masalah, individu biasanya perlu menyadari dulu bahwa dirinya mengalami masalah, seperti merasakan hal yang tidak nyaman, melihat dampak atau hasil yang buruk dari suatu kinerja, dan lain sebagainya. Setelah menyadari hal tersebut, individu berproses, ia mengamati lingkungan di luar dan di dalam dirinya. Jikalau masalah ini terkait perilaku, proses tersebut dinamakan sebagai refleksi. Manusia mengamati perilakunya sendiri dengan mengaitkan dampak dari perilakunya. Berbeda dengan bisnis, angka penjualan yang rendah tidak selalu disebabkan penjual yang tidak aktif dan cermat dalam berjualan, melainkan ternyata produk yang dijual kini sudah kurang mampu menarik konsumen. Mungkin saja selera konsumen mengalami perubahan, kemudian konsumen mencari produk pengganti yang dapat memberikan kepuasan pada dirinya.

Masalah sudah disadari, manusia telah mengamati masalah yang terjadi. Apakah selanjutnya?
Individu dapat mulai menduga-duga masalah apa yang terjadi pada dirinya. Proses menduga ini pun tidak serta-merta terjadi, individu kadang perlu melakukan analisis terhadap masalahnya yang terjadi, misalnya mengenali isu atau topik masalah yang terjadi dari pengetahuannya mengenai kondisi yang seharusnya hingga nantinya individu menguji kembali ketepatan dugaannya. Kemudian, individu pun mulai mencoba membuat solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah tersebut. Solusi pun dapat beragam. Individu perlu menimbangkan setiap solusi tersebut sehingga mampu menyelesaikan masalahnya. Hingga pada akhirnya, mungkin individu memilih sebuah solusi yang paling tepat pada dirinya.

Tulisan saya di atas panjang sekali, bukan? Tujuan saya menulis beberapa paragraf tersebut dijadikan sebagai fondasi dasar dan menyamakan pemahaman terhadap masalah yang umumnya terjadi. Dasar pemahaman ini kemudian akan dibandingkan dengan masalah khusus yang terjadi pada diri manusia dengan penyelesaian yang unik. Maksudnya adalah jika masalah umum yang terjadi dapat diselesaikan dengan tahapan metode yang saya jelaskan, masalah khusus memiliki metode yang berbeda, yaitu berdamai. Mengapa? Mari kita telusuri dan baca tulisan di paragraf selanjutnya.

Masa lalu. Kedua kata ini yang pertama kali membedakan kedua jenis masalah yang ada. Mungkin masalah yang terjadi pada sekarang ini dapat segera dituntaskan dengan metode yang saya jelaskan di paragraf sebelumnya. Bagaimana jika masalah yang terjadi pada masa lalu? Masa lalu yang sudah sangat lama. Mungkinkah kembali ke masa lalu? Mungkinkah mengubah masa lalu? Di masa lalu, mungkin kita masih kecil, mungkin kualitas diri belum sebaik sekarang hingga kita tidak dapat mengantisipasi hingga menyelesaikan masalah tersebut. Kita adalah hasil dari masa lalu. Pengalaman masa lalu juga berandil membentuk kita sekarang. Apa yang bisa kita lakukan jikalau pengalaman masa lalu hadir dan mengganggu kita sekarang? Selesaikan! Bagaimana? Berdamailah dengan masa lalu. Mengapa? Kita tidak dapat kembali masa lalu. Sebuah tindakan yang sia-sia jikalau kita hanya meratapi nasib di masa lalu. Tindakan yang tak berguna jikalau kita hanya mengandaikan pengalaman tersebut tidak terjadi. Tindakan yang tidak rasional jikalau kita ingin mengubah masa lalu.

Saya tidak mencari teori mengenai berdamai dengan masa lalu. Saya ingin berbagi buah pemikiran saja mengenai teknik tersebut. Sama dengan teknik umumnya, kita perlu mengungkapkan kembali masalah kita di masa lalu. Mungkin perlu katarsis atau meluapkan segala pikiran atau perasaan yang membebani kita. Kita menyadari adanya masalah tersebut dan menyadari bahwa pengalaman tersebut tidak dapat terulang kembali sehingga kita mencoba menyelesaikannya. Kita hanya dapat menanggapi dampak yang terjadi saat ini. Kita perlu belajar bersabar dan berlapang dada terhadap masa lalu. Akan menjadi lebih baik jika kita mau meyakini bahwa kita tidak ingin terjebak dalam masa lalu. Mengapa? Hari terus berjalan, dunia terus berubah. Apakah hanya ingin menjadi manusia masa lalu? Sayangnya, ini akan menghambat pengembangan diri kita. Paling sederhana adalah kita dapat belajar menjadi pribadi yang resilien, mampu bangkit dari keterpurukan yang pernah terjadi. Lebih baik lagi bahkan kita dapat belajar untuk mampu mengantisipasi atau menyelesaikan masalah yang sama serta yang mungkin terjadi pada masa kini dan masa depan.

Tulisan ini saya sampaikan kepada mereka yang pernah memiliki pengalaman pahit di masa lalu. Semoga dapat memberikan wawasan yang bermanfaat. Tidak harus meyakini teknik berdamai ini sebagai penyelesaian masalah yang terjadi di masa lalu. Namun, percayalah bahwa masa sekarang dan masa depanmu adalah yang terpenting. Mari bangkit! :)

Rabu, 02 April 2014

Papa Mama, I LOVE YOU



Kenyang sudah! Sukacita hari ini dilengkapi dengan masakan mama yang super enak malam ini. Kebetulan sekali malam ini gue engga mampir ke rumah makan sate padang karena merasa yakin bahwa masakan mama di rumah akan lebih enak. Ternyata benar, mama masak sayur sop, tempe mendoan, ikan bakar, dan sambal ikan asin. Luar biasa si mama, sempat gitu ya masak ikan bakar. Cool abis! Ini pasti karena mama peduli dengan kesehatan anak-anaknya. She always serves a good healthy food to us, her children. :) Love you! Muach! :*

Malam ini, gue bukan bercerita soal detil masakan dan kenikmatan masakan mama, melainkan gue mau berbagi pengalaman dan hasil pemikiran gue akhir-akhir ini dan ucapan syukur gue kepada orangtua gue. Mungkin sudah tahu ya bahwa saat ini gue sedang magang di PwC (pede banget gitu orang pada tau, dan ini bukan pamer :p). Well yah, pengalaman dan buah pemikiran gue berhubungan dengan magang lalu dikaitkan dengan peran orangtua. Kira-kira bisa menebak apa? Yo ayo tebak!

Langsung aja kali ya? Baiklah, gue mendapatkan insight setelah sekitar seminggu hingga dua minggu bekerja di kantor. Insight apa? Ternyata, menjadi seorang ayah itu tidak mudah. Dalam artian, ayah yang bekerja untuk menghidupi keluarganya secara finansial ternyata membutuhkan usaha yang kuat dan ketekunan yang teguh. Mengapa? Gue mengalami, gue mengamati, dan gue memahami.

Gue magang seharian, kerjaan gue bukan main-main. Gue pernah merasa lelah dan kadang bosan. Lantas, gue membayangkan bokap gue yang bekerja setiap hari bahkan sudah berpuluh-puluh tahun lamanya. Buset, gue ga kebayang apa yang beliau pikirkan dan rasakan selama bekerja. Just assumed, papa pasti mikirin isteri dan anak-anaknya. Mau makan apa mereka, mau hidup bagaimana mereka, mau dibawa ke mana mereka, dan mungkin masih banyak lagi. Terus, gimana ya perasaan papa? Umm, ga kebayang juga sih, apakah beliau merasa lelah sekali ketika bekerja atau gimana, tapi yang pasti yang namanya kerja ya wajar capek, baik pikiran, fisik, dan perasaan. Luar biasa ya bapak-bapak itu.

Selama gue magang, beberapa kali gue mengamati orang yang bekerja, engga jarang gue mengamati diri sendiri. Orang-orang di kantor datang pagi-pagi terus pulang sore bahkan sering lembur. Buset banget dong, sampe di rumah kemaleman, terus paginya bangun segera untuk berangkat ke kantor. Bahkan, pernah mendengar pengalaman seorang senior yang pernah tidur hanya beberapa jam. Ya ampun, mereka tidur berapa jam sehari? Terus kerjaan mereka pun tampak ga mudah lagi. Perusahaan besar memberikan pekerjaan besar sehingga membutuhkan orang yang besar. Dan ini artinya adalah wajar bagi mereka. Namun, ini tidak lah biasa karena saya pikir proses yang mereka alami pasti luar biasa sehingga mampu bertahan dan terus berkarya hingga saat ini. Hebat! Terus mengamati diri gue sendiri, ini bermaksud bahwa gue menyadari pekerjaan yang gue kerjakan dan bagaimana proses serta pengaruh yang gue alami saat bekerja. Wow, my life becomes more realistic. Haha!

Terus terus, di kampus, gue belajar tentang psikologi dan pendidikan karier. Di kuliahnya, gue belajar mengenai sembilan peran yang dimiliki manusia. Teori ini dicetus oleh Super. Sayangnya, gue lupa nama depannya, kalo ga salah, Donald Super. Kayanya bener deh itu Donald Super. Ya, jadi kata Bapak Super, beberapa peran yang dimiliki manusia adalah peran sebagai anak atau bocil, siswa, pekerja, dan orangtua. Masing-masing memiliki tanggung jawab, kewajiban, dan deskripsi pekerjaan yang perlu dilakukan. Dan, gue semakin memahami bahwa seluruh manusia di jagat raya ini akan mendapatkan peran-peran tersebut. Pertanyaannya adalah bagaimana peran tersebut dapat dilakukan. Dalam pembahasan teorinya lebih lanjut, dibilang ada konsep yang namanya kesiapan dalam berperan. Beuh, membahas perkara kesiapan, masih terdapat beberapa bagian yang dimiliki oleh manusia dan sumber daya lainnya yang membentuk kesiapan pada mereka. Misalnya: knowledge, skills, self-concept, information, dan lain sebagainya. Terus gue dapet insight dan bersyukur bahwa gue sedang magang di sini adalah cara untuk gue bisa semakin siap menjalani peran selanjutnya. Wow! Dan ini berarti bapak dan emak gue telah mengalami banyak hal selama lika-liku hidup mereka hingga dapat menjalankan perannya hingga sejauh ini.

Mama, peran mama pun berarti dalam hidup gue. Bayangkan, gue makan apa kalo mama gue ga masak. Dari kecil hingga sekarang, mama rajin masak. Mana masakannya seringkali ga nanggung-nanggung, selalu total. Kece! Ketika gue sampai di rumah dari kantor, makanan sudah disajikan di atas meja makan. Bahagia sekali rasanya, gue sampe rumah langsung bisa makan dengan lahapnya. Mungkin ini ya yang bokap gue maknai bahwa masakan rumah, khususnya masakan mama begitu menggoda. Maksudnya adalah mungkin papa gue merasa bahagia juga ketika pulang dari pekerjaannya lalu tiba di rumah bisa makan enak dan sehat. Jadi gue semakin memahami, peran ibu begitu menggoda. Alias, bukan sekadar merawat dan memelihara, terkadang ibu melakukan peran seorang ayah atau suami. Cool deh mereka! <3

Sampai di sini mungkin sudah semakin mengerti ya tentang apa yang gue tulis sejauh ini. Fokus pertama adalah soal papa-mama gue yang ternyata begitu luar biasa. Gue bisa memiliki kesimpulan ini karena mengalami langsung melalui magang, yang mana bekerja, yaitu belajar berperan sebagai pekerja dan orangtua. Di samping itu, gue pun memahami bahwa peran bapak dan ibu begitu bermakna. Bayangkan kalo bapak gue malesan, gue makan apa. Bayangkan enyak gue jalan-jalan terus, gue dikasih makanan macam apa. (Perasaan contohnya makan terus, well gue ngaku memang hobi gue adalah makan). Poin yang bisa kita pelajari lainnya adalah penting bagi kita, baik remaja maupun dewasa muda untuk terus belajar dan mencoba peran-peran yang ada dalam hidup ini. Bukalah mata dan telinga, amati sekitar dan renungkan kepada diri kita. Tujuannya adalah agar kita bisa menghasilkan pemahaman yang baik melalui pengalaman kita. Dan, segala sesuatunya dimulai dari belajar dan teruslah belajar. Eaakkk!

Well, gue bersyukur dan berterima kasih punya orangtua seperti mereka. Meskipun kadang gue bete ketika ada perbedaan pendapat atau pemahaman, gue tetap menghormati mereka dan belajar untuk mempertimbangkan masukan dari mereka. Ini memang wajar dihadapi anak seumuran gue. Terus, kembali gue bersyukur kepada Tuhan yang memberikan kesempatan bagi gue untuk hidup sehingga gue bisa mengalami pembelajaran berharga dalam hidup gue. Gue berterima kasih kepada orang-orang di kantor, terutama bos gue, Mba I (inisial aja ya), yang telah memberikan kesempatan magang kepada gue. Terima kasih juga untuk dosen pendidikan karier gue yang telah membukakan pemikiran dan meluaskan pandangan terhadap peran dalam kehidupan. Wow! Terus, terima kasih kepada semuanya!! :D