Rabu, 02 April 2014

Papa Mama, I LOVE YOU



Kenyang sudah! Sukacita hari ini dilengkapi dengan masakan mama yang super enak malam ini. Kebetulan sekali malam ini gue engga mampir ke rumah makan sate padang karena merasa yakin bahwa masakan mama di rumah akan lebih enak. Ternyata benar, mama masak sayur sop, tempe mendoan, ikan bakar, dan sambal ikan asin. Luar biasa si mama, sempat gitu ya masak ikan bakar. Cool abis! Ini pasti karena mama peduli dengan kesehatan anak-anaknya. She always serves a good healthy food to us, her children. :) Love you! Muach! :*

Malam ini, gue bukan bercerita soal detil masakan dan kenikmatan masakan mama, melainkan gue mau berbagi pengalaman dan hasil pemikiran gue akhir-akhir ini dan ucapan syukur gue kepada orangtua gue. Mungkin sudah tahu ya bahwa saat ini gue sedang magang di PwC (pede banget gitu orang pada tau, dan ini bukan pamer :p). Well yah, pengalaman dan buah pemikiran gue berhubungan dengan magang lalu dikaitkan dengan peran orangtua. Kira-kira bisa menebak apa? Yo ayo tebak!

Langsung aja kali ya? Baiklah, gue mendapatkan insight setelah sekitar seminggu hingga dua minggu bekerja di kantor. Insight apa? Ternyata, menjadi seorang ayah itu tidak mudah. Dalam artian, ayah yang bekerja untuk menghidupi keluarganya secara finansial ternyata membutuhkan usaha yang kuat dan ketekunan yang teguh. Mengapa? Gue mengalami, gue mengamati, dan gue memahami.

Gue magang seharian, kerjaan gue bukan main-main. Gue pernah merasa lelah dan kadang bosan. Lantas, gue membayangkan bokap gue yang bekerja setiap hari bahkan sudah berpuluh-puluh tahun lamanya. Buset, gue ga kebayang apa yang beliau pikirkan dan rasakan selama bekerja. Just assumed, papa pasti mikirin isteri dan anak-anaknya. Mau makan apa mereka, mau hidup bagaimana mereka, mau dibawa ke mana mereka, dan mungkin masih banyak lagi. Terus, gimana ya perasaan papa? Umm, ga kebayang juga sih, apakah beliau merasa lelah sekali ketika bekerja atau gimana, tapi yang pasti yang namanya kerja ya wajar capek, baik pikiran, fisik, dan perasaan. Luar biasa ya bapak-bapak itu.

Selama gue magang, beberapa kali gue mengamati orang yang bekerja, engga jarang gue mengamati diri sendiri. Orang-orang di kantor datang pagi-pagi terus pulang sore bahkan sering lembur. Buset banget dong, sampe di rumah kemaleman, terus paginya bangun segera untuk berangkat ke kantor. Bahkan, pernah mendengar pengalaman seorang senior yang pernah tidur hanya beberapa jam. Ya ampun, mereka tidur berapa jam sehari? Terus kerjaan mereka pun tampak ga mudah lagi. Perusahaan besar memberikan pekerjaan besar sehingga membutuhkan orang yang besar. Dan ini artinya adalah wajar bagi mereka. Namun, ini tidak lah biasa karena saya pikir proses yang mereka alami pasti luar biasa sehingga mampu bertahan dan terus berkarya hingga saat ini. Hebat! Terus mengamati diri gue sendiri, ini bermaksud bahwa gue menyadari pekerjaan yang gue kerjakan dan bagaimana proses serta pengaruh yang gue alami saat bekerja. Wow, my life becomes more realistic. Haha!

Terus terus, di kampus, gue belajar tentang psikologi dan pendidikan karier. Di kuliahnya, gue belajar mengenai sembilan peran yang dimiliki manusia. Teori ini dicetus oleh Super. Sayangnya, gue lupa nama depannya, kalo ga salah, Donald Super. Kayanya bener deh itu Donald Super. Ya, jadi kata Bapak Super, beberapa peran yang dimiliki manusia adalah peran sebagai anak atau bocil, siswa, pekerja, dan orangtua. Masing-masing memiliki tanggung jawab, kewajiban, dan deskripsi pekerjaan yang perlu dilakukan. Dan, gue semakin memahami bahwa seluruh manusia di jagat raya ini akan mendapatkan peran-peran tersebut. Pertanyaannya adalah bagaimana peran tersebut dapat dilakukan. Dalam pembahasan teorinya lebih lanjut, dibilang ada konsep yang namanya kesiapan dalam berperan. Beuh, membahas perkara kesiapan, masih terdapat beberapa bagian yang dimiliki oleh manusia dan sumber daya lainnya yang membentuk kesiapan pada mereka. Misalnya: knowledge, skills, self-concept, information, dan lain sebagainya. Terus gue dapet insight dan bersyukur bahwa gue sedang magang di sini adalah cara untuk gue bisa semakin siap menjalani peran selanjutnya. Wow! Dan ini berarti bapak dan emak gue telah mengalami banyak hal selama lika-liku hidup mereka hingga dapat menjalankan perannya hingga sejauh ini.

Mama, peran mama pun berarti dalam hidup gue. Bayangkan, gue makan apa kalo mama gue ga masak. Dari kecil hingga sekarang, mama rajin masak. Mana masakannya seringkali ga nanggung-nanggung, selalu total. Kece! Ketika gue sampai di rumah dari kantor, makanan sudah disajikan di atas meja makan. Bahagia sekali rasanya, gue sampe rumah langsung bisa makan dengan lahapnya. Mungkin ini ya yang bokap gue maknai bahwa masakan rumah, khususnya masakan mama begitu menggoda. Maksudnya adalah mungkin papa gue merasa bahagia juga ketika pulang dari pekerjaannya lalu tiba di rumah bisa makan enak dan sehat. Jadi gue semakin memahami, peran ibu begitu menggoda. Alias, bukan sekadar merawat dan memelihara, terkadang ibu melakukan peran seorang ayah atau suami. Cool deh mereka! <3

Sampai di sini mungkin sudah semakin mengerti ya tentang apa yang gue tulis sejauh ini. Fokus pertama adalah soal papa-mama gue yang ternyata begitu luar biasa. Gue bisa memiliki kesimpulan ini karena mengalami langsung melalui magang, yang mana bekerja, yaitu belajar berperan sebagai pekerja dan orangtua. Di samping itu, gue pun memahami bahwa peran bapak dan ibu begitu bermakna. Bayangkan kalo bapak gue malesan, gue makan apa. Bayangkan enyak gue jalan-jalan terus, gue dikasih makanan macam apa. (Perasaan contohnya makan terus, well gue ngaku memang hobi gue adalah makan). Poin yang bisa kita pelajari lainnya adalah penting bagi kita, baik remaja maupun dewasa muda untuk terus belajar dan mencoba peran-peran yang ada dalam hidup ini. Bukalah mata dan telinga, amati sekitar dan renungkan kepada diri kita. Tujuannya adalah agar kita bisa menghasilkan pemahaman yang baik melalui pengalaman kita. Dan, segala sesuatunya dimulai dari belajar dan teruslah belajar. Eaakkk!

Well, gue bersyukur dan berterima kasih punya orangtua seperti mereka. Meskipun kadang gue bete ketika ada perbedaan pendapat atau pemahaman, gue tetap menghormati mereka dan belajar untuk mempertimbangkan masukan dari mereka. Ini memang wajar dihadapi anak seumuran gue. Terus, kembali gue bersyukur kepada Tuhan yang memberikan kesempatan bagi gue untuk hidup sehingga gue bisa mengalami pembelajaran berharga dalam hidup gue. Gue berterima kasih kepada orang-orang di kantor, terutama bos gue, Mba I (inisial aja ya), yang telah memberikan kesempatan magang kepada gue. Terima kasih juga untuk dosen pendidikan karier gue yang telah membukakan pemikiran dan meluaskan pandangan terhadap peran dalam kehidupan. Wow! Terus, terima kasih kepada semuanya!! :D
     

Sabtu, 22 Maret 2014

Refleksi, Pencapaian, dan Syukur :)



Dear Universe,

Apa yang telah saya lakukan? Dan, apa yang telah saya capai?

Sejak awal tahun 2014, saya telah menetapkan visi tahunan, yaitu “Beraplikasi dan Berdampak”. Beraplikasi di sini maksudnya adalah saya menerapkan pembelajaran yang saya peroleh dari pengalaman saya sebelumnya, serta saya pun menegaskan diri untuk secara konkret melakukan sebuah tindakan nyata. Berdampak di sini artinya adalah setiap pemikiran dan perilaku saya perlu memberikan pengaruh yang positif, baik bagi diri saya maupun orang lain. Saya bersyukur bahwa hampir tiga bulan di tahun ini, saya telah mengusahakan visi tersebut terjadi dan bersyukur membuahkan hasil. Saya melakukan beberapa perubahan pada diri saya, misalnya dalam hal pengembangan diri, seperti keterampilan-keterampilan tertentu dan pengembangan sikap positif. Hal tersebut pun memberikan dampak bagi diri saya secara positif, misalnya saya menjadi lebih menikmati diri dan mencapai keberhasilan. Dan kepada orang lain, usaha membantu orang lain yang sedang bermasalah pun telah saya lakukan dan memberikan dampak yang positif bagi mereka. Salah satu contohnya adalah teman saya merasa lebih tenang, nyaman, dan termotivasi untuk mencapai sesuatu.

Selain visi, saya juga menetapkan target tahunan, yaitu (1) menyelesaikan skripsi, (2) melakukan magang, dan (3) mengikuti kompetisi. Puji Tuhan, saya sekarang telah mengerjakan target tersebut. Saya sedang mengerjakan skripsi. Saya melakukan magang. Saya mengikuti kompetisi. Pada awalnya, saya telah menyadari bahwa ini akan menjadi tantangan bagi saya. Saya sudah seharusnya dapat melakukan ketiga hal tersebut dengan mengelola waktu dan diri saya dengan baik. Akan tetapi, ternyata tidak mudah seperti yang dibayangkan. Saya sempat mengalami overwhelmed terhadap semua ini, namun saya bersyukur karena saya selanjutnya pun dapat mengatasinya dengan memotivasi diri sendiri untuk terus bertahan dan mendapatkan feedback yang membangun dari orang yang peduli di sekitar saya. Saya percaya bahwa pertolongan Tuhan selalu menyertai saya. Melalui tulisan ini, saya pun ingin menegaskan kembali diri saya untuk tetap terus berjuang dengan bersukacita mengerjakannya. Mengapa? Ini adalah karunia yang Tuhan berikan, ini adalah pilihan yang memiliki konsekuensi dan harus dihadapi.

Skripsi, ini adalah sebuah persyaratan untuk mendapatkan gelar sarjana. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa saya telah melampaui semester demi semester, tahun demi tahun dalam perkuliahan saya di Psikologi UI. Bahkan sebelum saya menjadi seorang akademisi psikologi, Tuhan juga yang telah menuntun dan membimbing saya hingga saya berhasil lulus ujian masuk perguruan tinggi. Oleh sebab itu, saya harus tetap semangat dalam mengerjakan skripsi sehingga saya dapat lulus pada tahun ini. Saya berharap bahwa saya sungguh mengerjakan skripsi karena saya menikmatinya. Saya menyukai variabel penelitian saya, sudah seharusnya saya termotivasi untuk mendalaminya. Maka dari itu, skripsi bukan sekadar kewajiban untuk lulus, melainkan sarana untuk memahami dan menjadi semakin ahli di bidang tersebut. Sebagai informasi tambahan, variabel penelitian saya adalah perilaku inovatif dan kesiapan karyawan untuk berubah. Saya yakin bahwa penelitian saya ini bermanfaat bagi individu, kelompok, dan organisasi.

Magang, saya bersyukur karena saya berhasil mendapatkan tempat magang setelah berusaha berkali-kali mengajukan lamaran ke berbagai perusahaan. Dimulai dari perusahaan ideal bagi saya, yaitu fast moving consumer goods company, lalu saya coba perusahaan pertelevisian, personal care, minyak dan pertambangan, hingga ragam perusahaan konsultan. Puji Tuhan, saya mendapatkan kesempatan magang di konsultan bisnis dan keuangan yang luar biasa, yaitu PricewaterhouseCoopers. Saya bersyukur karena usaha-usaha saya membuahkan hasil sehingga saya dapat diterima di kesempatan magang ini. Perusahaan besar pasti membutuhkan sumber daya manusia yang unggul. Ini menandakan bahwa saya memiliki kualitas yang dibutuhkan dan diharapkan untuk mengerjakan tugas di sana dan mendukung keberhasilan perusahaan. Mungkin terkesan berlebihan, namun mengapa tidak jika kita percaya bahwa diri kita memiliki kualitas? Karena bukannya setiap orang memiliki kualitasnya masing-masing? Saya telah menetapkan tiga tujuan untuk melakukan magang. Pertama adalah mendukung perusahaan melalui aplikasi kualitas diri, baik sikap kerja, pengetahuan, maupun keterampilan. Kedua adalah memahami aplikasi bisnis khususnya dalam konteks sumber daya manusia. Ketiga adalah mengembangkan kualitas diri profesional, seperti manajemen waktu, mengelola diri, berencana serta bertindak, dan lain sebagainya. Saya berharap saya dapat mencapai tujuan tersebut sehingga saya dan perusahaan dapat saling memberikan manfaat.

Pengalaman magang saya cukup menyenangkan sejauh ini. Saya menyukai lingkungan sosial di tempat saya magang. Orang di sekitar saya tampak menerima saya dan membantu saya untuk mengerjakan tugas saya. Pernah suatu waktu, saya secara khusus dibina untuk mengelola pekerjaan saya agar semakin efektif dan efisien. Pekerjaan saya saat ini memang dapat dikatakan cukup banyak. Saya bertindak mengerjakan fungsi rekrutmen dan seleksi. Dimulai dari mencari kandidat atau pelamar kerja yang potensial hingga menindaklanjuti menyeleksi yang terbaik. Penyelia saya memberikan masukan yang baik agar saya dapat mendapatkan kandidat yang tepat dalam waktu yang tepat. Saya berharap saya dapat mengerjakan tugas saya dengan proses yang baik. Singkatnya, saya berharap saya mendapatkan pembelajaran berharga, baik yang bermanfaat bagi pengembangan karier saya dan kebutuhan saya untuk terus belajar dan berkembang. Entah, saya tidak mau hanya tulisan pengalaman saja yang tercantum dalam CV, melainkan saya membutuhkan bentukan perilaku yang semakin baik bagi diri saya.

Kompetisi, saya tidak menyangka bahwa saya saat ini mengerjakan tiga kompetisi bersamaan dengan skripsi dan magang. Saya sendiri pun sekarang merasa seperti tidak menyangka. Kembali saya yang memilih, saya pun harus mengerjakannya dengan baik. Dan tentunya, ini adalah pemberian Tuhan yang diberikan kepada saya, sama seperti skripsi, magang, dan kegiatan lainnya. Maka dari itu, saya perlu mengerjakannya semaksimal yang bisa saya berikan. Kompetisi pertama, business plan competition, saya menuliskan ide bisnis yang saya telah miliki sejak tahun lalu. Bersyukur bahwa saya mendapatkan informasi mengenai lomba ini sehingga saya dapat mengikutinya. Ide saya ini sebenarnya telah saya implementasikan maka ini adalah inovasi yang saya lakukan dan ingin saya terus kembangkan. Secara singkat, ide bisnis saya adalah menjual produk berupa layanan psikologi kepada mahasiswa. Kompetisi kedua, Pemilihan Mapres (Mahasiswa Berprestasi) Fakultas Psikologi UI, saya tidak menyangka bahwa saya menjadi Finalis lima besar. Saya percaya ini adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada saya. Ini adalah buah dari perjuangan yang saya lakukan. Dan, ini adalah pencapaian yang pernah saya cita-citakan. Motivasi saya mengikuti pemilihan Mapres adalah (1) memberikan dampak kepada lingkungan, (2) mengharumkan nama Fakultas Psikologi UI di tingkat yang lebih tinggi, dan (3) mengaktualisasi diri. Sebagai konsekuensinya, harapan saya adalah saya dapat memotivasi dan menginspirasi kehidupan orang lain, menjadi Mapres yang membanggakan bagi civitas, dan mengembangkan potensi diri. Kompetisi ketiga, Psycompilation Maranatha, sebuah olimpiade keilmuan psikologi tingkat nasional akan diadakan pada bulan Mei. Tidak kebetulan, saya terpilih menjadi salah satu kontingen dalam perlombaan ini. Saya dan rekan kontingen saat ini sedang melakukan persiapan untuk mempelajari ilmu psikologi dan cabang keilmuan psikologi lainnya. Harapan dari mengikuti kompetisi ini, saya ingin memahami lebih mendalam mengenai ilmu psikologi itu sendiri karena saya tidak ingin bahwa ilmu yang saya peroleh dalam pendidikan berlalu begitu saja.

Saya menulis ini bukan bermaksud untuk memamerkan pencapaian saya. Tulisan ini merupakan ucapan syukur saya kepada Tuhan yang menyertai saya dari awal hingga sampai sekarang. Tuhan saya adalah Tuhan yang sama ketika kamu meyakini bahwa Tuhanmu juga menuntun dan menyertaimu dalam kehidupan ini. Tulisan ini pun menegaskan kembali bahwa saya memiliki tanggung jawab yang harus dikerjakan sekarang dan seterusnya hingga saya dapat memenuhi setiap tujuan, harapan, dan target saya. Bersyukur dan menegaskan memang dapat saya lakukan sendiri tanpa membagikan tulisan ini. Namun, saya memiliki visi hidup “Helping and Developing Others”. Berharap tulisan ini dapat menginspirasi dan memotivasi para pembaca untuk dapat belajar. Maka dari itu, jika ingin mencapai kesuksesan, penting bagi kita untuk mengetahui apa yang benar kita inginkan dalam hidup ini, apa yang dapat membuat kita bahagia, atau apa cita-cita dan visi hidup kita. Karena berangkat dari pengetahuan tersebut, kita akan mengarahkan perilaku kita untuk mewujudkannya. Ditambah dari pengalaman saya, penting untuk merenungkan dan menemukan panggilan Tuhan pada hidup kita karena ini akan menjadi gerbang permulaan dalam melangkah selanjutnya. Dan ketahuilah, tidak ada kesuksesan yang mudah dicapai. Kamu dapat saja lelah, kamu dapat saja ingin menyerah. Namun, nikmati dan usahakanlah sebisa mungkin dalam perjalanannya karena kamu akan belajar dan percayalah bahwa akan bermanfaat bagimu kelak, kamu dapat semakin terampil atau mendukungmu untuk mencapai cita-citamu. Selama berusaha, milikilah keyakinan bahwa kamu pasti akan berhasil. Apa pun hasilnya selalu bersyukur karena Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi kita. 

Selain itu, tulisan ini saya persembahkan kepada orang-orang yang peduli dengan saya. Papa saya, yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Mama saya, yang merawat dan mendukung saya agar dapat terus hidup. Kakak-kakak dan adik kandung saya, yang terus mendukung saya untuk terus maju. Dan tidak lupa, sahabat-sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka, menerima saya apa adanya, dan mendukung saya hingga sejauh ini. Para pengajar dan pendidik saya, dari bangku TK dan perguruan tinggi, yang telah berusaha mengerjakan tugas-tugasnya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. Tidak lupa juga kepada setiap orang yang hadir, yang turut mewarnai dan mendukung saya dalam kehidupan ini. Tanpa adanya kalian semua, saya tidak dapat mencapainya dengan lebih mudah. Saya percaya semua ini adalah rencana Tuhan atas saya. Semoga saya dapat terus memuliakan Tuhan melalui apa yang saya lakukan dan capai.

Sabtu, 07 Desember 2013

Cerita di Minggu Tengah Siang: Seleksi Magang



Hai! I’m back. :p Sebelum gue ngerjain tugas, enaknya gue cerita dulu nih. #modusprokras. Umm gue mau cerita apa? Gue mau cerita pengalaman ikutan seleksi untuk magang. Gue bersyukur gue lolos seleksi tahap pertama, yaitu application form. Well, gue seneng banget bisa lolos seleksi pertama ini since perusahaan ini adalah my dream company sejak dulu. Terus, gue merasa bangga karena dapat mencapai seleksi selanjutnya, meskipun ya belum lolos kenyataannya. Gue merasa puas dengan apa yang telah gue kerjakan dan siapkan untuk bisa sampai tahap tersebut.

Gue yakin banyak banget orang yang incer perusahaan ini. Bayangkan brand-nya aja udah oke banget. Profit yang dicapai dalam setahun bisa mencapai triliyunan. Cadas ya, gue percaya banget pasti orang di dalamnya luar biasa. Ya memang budaya dan organisasinya sendiri pun memfasilitasi. Umm kesempatan gue pun untuk belajar di sana pun sangat berharga jadinya. Di samping itu, gue pun melihatnya perusahaan ini punya visi yang bagus, kurang lebih berkaitan dengan visi hidup gue. Eaaa. Jadi, I feel I need to support them. Gue bisa aktualisasi visi hidup gue di sana juga dengan memberikan dampak pada kehidupan konsumen dari brand-brand yang mereka punya. Namun, gue tetep percaya di mana pun gue tetap bisa mengaktualisasinya. Amin. J

Entah apa yang pasti di-assess dalam seleksi tersebut. Focus group discussion, setiap kelompok diberikan sebuah kasus bisnis. Setiap anggota dianggap sebagai tim untuk menanggapi kasus tersebut. Well ya, I was trying my best. Gue sangat berfokus pada isu dan topik HR karena gue memang berencana untuk magang di divisi tersebut. Gue pun mengeluarkan ide-ide gue terkait HR dengan menampilkan fungsi dari HR tersebut. Gue memang ga terlalu menimbang fungsi-fungsi lain yang terkait bisnis saat itu, misalnya sales, production, dan marketing. Kenapa? Karena menurut gue, ide yang gue sampaikan adalah solusi HR yang bisa dipertimbangkan untuk diterapkan. Nah, rupanya yang lolos seleksi adalah mereka yang concern pada fungsi-fungsi lain juga. Gue jadi berpikir bahwa sebaiknya memang perlu memahami setiap fungsi jika ingin melaksanakan bisnis. Dan sepertinya, gue sebaiknya menunjukkan poin-poin lain juga selain HR.

Well, ini pengalaman baik dalam belajar. Gue jadi ter-encourage untuk terus belajar lagi terkait bisnis dan manajemen. Dan yang pasti harus menyasar isu dan topik dari fungsi-fungsi lain ketika menghadapi tes yang sama. Hehe. Karena meskipun gue merasa bijak dengan fokus pada HR, nyatanya employer memilih mereka yang berfokus juga kepada fungsi lain. Well, it’s a very good thinking. Tapi ya gitu, gue sebagai anak psikologi masih penasaran dengan kompetensi apa yang diukur ketika pelaksanaan mini assessment center waktu itu. Hehe. Gue udah berencana akan bertanya kepada employer soal kekuatan dan kelemahan gue terkait selama asesmen tersebut. Semoga gue bisa belajar lebih lagi dan achieve lebih lagi. Amin. Dan sekarang gue mau ngerjain tugas. Tugas ini pun menjadi tugas untuk UAS.

Sabtu, 02 November 2013

Reconciliation of Conflicts



HI! I’m back. I would like to write this about what I have read and learned today. I read a mini thesis of my senior in my faculty. The topic is about conflict which influence to children’s self-esteem between parents and teenagers. I will not review what the mini thesis written and what the result of its research. But, I want to share about conflict happening around us.And facilitate you to have a simple solution from your own reflection.

Let me tell you the definition of conflict. Based from the mini thesis, conflict is an effort showed by people in an interaction who perceive a different goal, scarcity of resources, and interference from others for achieving their goals (Wilmot & Hocker, 2001, on Mairawati, 2006). From this definition, we can see that the reasons of the conflict itself. People have their own goals. They tend to complete their needs in some ways, included through interaction with others. More obviously, conflicts categorized in three types. They are content, relational, and identity conflict.

First is content, people involve in conflict to obtain a thing. For example, a teenager asks their parent to give him a car. The parents cannot allow his demand because of his age. Thus, this kid feel upset then behave inappropriately. Second is relational, most people want to be treated well. In common, people seldom communicate explicitly. But, we can know the reasons that people do this type. For example, some people want to be appreciated of what things they have done. Third is identity. People are trying to keep the self. It means their self-esteem, pride, or etc. In a conflict, people tend to be a stubborn person. They believe what their belief without consider the others. They will always protect themselves. On the other hand, people who can be mentioned as “victim” can behave harmfully to their self. In addition, it will be happened if the conflict is giving an opinion or judgment to others.

Besides the explanation above, there is an internal component which triggers the conflict. That is a need of power. The meaning of power is different for each person. We understand that people are struggling to survive. By a power, we agree that they can stay alive so well. Thus, it triggers them to get more power from the resources. But, how if it happens too much. We can see from media. People do criminal because they want to excess their power. Let say, corruption.  

I am just asking, why don’t people use their power to give a benefit to each others? Why don’t we stay humble of things we have now? I just found the blessing words. For by the grace given to me I warn everyone among you not to estimate and think of himself more highly than he ought, but to rate his ability with sober judgment, each according to the degree of faith apportioned by God to him (Rome 12:3). Living as becomes you with complete lowliness of mind (humility) and meekness (unselfishness, gentleness, mildness), with patience, bearing with one another and making allowances because you love one another (Ephesians 4:2). Do nothing from factional motives or prompted by conceit and empty arrogance. Instead, in the true spirit of humility (lowliness of mind) let each regards the others as better than and superior to himself (Philippians 2:3). Can you imagine how our lives if people keep their humility and share love genuinely to others? May God bless you! God loves you!

Sources:
Holy Bible
Mairawati, D. (2006). Gambaran konflik orangtua-remaja dan dampaknya terhadap self-esteem remaja. Skripsi Psikologi. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.